Sabtu, 13 Februari 2016

Mencintai tidak harus memiliki.


‪#‎efekGalau‬ gak ada rencana ‪#‎valentine‬

Sepertinya kisah kisah percintaan banyak yang gagal paham dalam memaknai.
Banyak kisah cinta yang dipaksakan berujung pada kematian, tentu ini menyakitkan, jika rasa cinta yang di ungkapkan atas nama kasih sayang ternyata menjadi salah persepsi. Tentu ini bukan karena janur kuning sudah melengkung, atau cincin emas sudah terikat pada jari manis, bukan itu masalah cinta tidak harus memiliki.

Dan keyakinan ini pasti disetujui oleh para aktivis, para ulama berbagai macam agama dan pastinya para profesor.

Kecintaan pada satwa liar yang menjadi salah kaprah dan salah persepsi hingga akhirnya memiliki secara paksa, yang menjadikan satwa pengemis, atau tersiksa dalam kurungan karena sang pemilik gagal paham dalam konsep cinta dan kasih.
"Banyak orang salah kaprah, mengaku sayang akhirnya memelihara satwa liar. Rasa sayang tidak harus dengan memiliki," .

Masyarakat sebenarnya menjadi elemen penting dalam mencegah perdagangan satwa liar, baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi.

Jika menemukan satwa yang diperjual belikan maka langkah yang bisa diambil adalah dengan tidak membeli satwa tersebut.

"Peran masyarakat umum besar sekali, mereka yang sudah mengerti, tidak membeli satwa liar apalagi yang dilindungi," masyarakat yang sudah tahu diharapkan mengedukasi masyarakat yang belum tahu. Permasalahan muncul, karena belum semua tahu tentang adanya aturan yang melarang penangkapan dan penjualan satwa liar.

Mencintai satwa itu sangat penting, mengapa penting karena kalau kita memelihara satwa maka kita harus juga mempertimbangkan berbagai macam hal, salah satunya adalah bagaimana tingkat kesejahteraan mereka, kelayakan hidup mereka, dan di bawah ini ada hal yang wajib di pertimbangkan dan menjadi catatan bagi masyarakat yang mengaku sebagai penyayang satwa.

Lima hak kebebasan hewan dapat diuraikan sebagai berikut :
1.BEBAS DARI RASA LAPAR DAN HAUS Tersedianya air minum dan makan yang layak, higienis dan memenuhi gizi serta sesuai dengan musim. Pemberian makanan yang tepat dan proporsional.
2.BEBAS DARI RASA PANAS DAN TIDAK NYAMANAdanya tempat berteduh, area untuk istirahat dan fasilitas yang sesuai dengan perilaku satwa.
3.BEBAS DARI LUKA, PENYAKIT DAN SAKITPengobatan dan pencegahan penyakit, diagnosa yang cepat dan tepat serta lingkungan yang higienis sehingga kuman patogen (bahaya) dapat dicegah dan dikontrol.
4.BEBAS MENGEKSPRESIKAN PERILAKU NORMALDAN ALAMI Tersedianya ruang tempat tinggal yang memadai, fasilitas kandang yang sesuai dengan tingkah laku (behavior) satwa dan adanya teman untuk berinteraksi sosial.
5.BEBAS DARI RASA TAKUT DAN PENDERITAAN Tidak ada konflik (pertengkaran) antar atau lain species, tidak adanya gangguan dari hewan pemangsa (predator).

“Tiada makhluk yang merayap di bumi, tiada burung yang terbang dengan sayap-sayapnya, melainkan mereka adalah umat-umat yang serupa dengan kamu. Kami tidak mengalpakan sesuatu di dalam Alquran, kemudian kepada Pemelihara mereka, mereka akan dikumpulkan.” (Surah 6:38).
Konsep kasih sayang pada satwa dalam ajaran islam.

Perintah bagi umat muslim tercantum Nabi saw., mengajarkan bahwa sikap dan tindakan kita terhadap binatang akan-di antaranya-menentukan nasib kita di akhirat.

Dalam Al Quran memuat berbagai ayat tentang pentingnya pelestarian satwa (hewan) dan menjaga keseimbangan ekosistem di bumi. Ayat-ayat yang memuat firman Allah SWT tersebut menegaskan peran penting manusia, sebagai khalifah di bumi, untuk turut serta menyelamatkan dan melestarikan satwa-satwa (termasuk satwa langka) agar tidak punah.

Dalam beberapa ayat tersebut, jelas menunjukkan pentingnya melakukan perlindungan dan pelestarian terhadap hewan, baik hewan peliharaan ataupun hewan liar (satwa liar). Pun dalam menjaga keseimbangan ekosistem di bumi.

Dalam al-Qur'an menyuruh setiap Muslim untuk memperlakukan hewan dengan rasa belas kasihan dan tidak menganiaya mereka. Hewan beserta makhluk lain dipercaya senantiasa memuji Tuhan, walau pujian ini tidak dinyatakan sebagaimana yang manusia perbuat.(lihat Qur'an 17:44).

Dalam al-Qur'an secara khusus mengizinkan daging hewan untuk dimakan (lihat Qur'an 5:1). Walaupun sebagian para Sufi mengamalkan vegetarianisme, hingga kini, tidak ada pembicaraan serius mengenai kemungkinan tafsiran vegetarianisme. Hewan boleh dimakan dengan syarat ia disembelih sesuai syariat yang telah ditetapkan. Pengecualiannya adalah babi, bangkai, dan hewan yang tidak disembelih atas nama Allah.
Islam menganggap hewan sebagai makhluk yang harus dihargai. Karenanya, Islam menetapkan etika manusia terhadap hewan yaitu :

Memberinya makan-minum, jika hewan-hewan tersebut lapar dan haus, karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah: Terhadap yang mempunyai hati yang basah terdapat pahala, (Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah). Siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi, (Muttafaq Alaih).

Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya kalian disayangi siapa saja yang ada di langit (Diriwayatkan Ath-Thabrani dan Al Hakim).

Menyayanginya, dan berbelas kasih kepadanya, Ketika Rasulullah melihat orang-orang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah, dia bersabda: Allah melaknat siapa saja yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran, (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih).

Rasulullah melarang menahan hewan untuk dibunuh dengan sabdanya: Barangsiapa yang menyakiti ini (burung) dengan anaknya; kembalikan anaknya padanya, (Diriwayatkan Muslim). Rasulullah bersabda seperti itu, karena melihat burung terbang mencari anak-anaknya yang diambil salah seorang sahabat dari sarangnya.

Jika ia ingin menyembelihnya, atau membunuhnya, maka ia melakukannya dengan baik, karena Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala hal. Oleh karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang dan kalian menenangkan hewan yang akan disembelihnya, dan menajamkan pisaunya, (Diriwayatkan Muslim, At Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad).

Tidak menyiksanya dengan cara-cara penyiksaan apapun baik dengan melaparkannya, atau meletakkan padanya muatan yang tidak mampu ia angkut, atau membakarnya dengan api, karena dalil-dalil berikut: Rasulullah saw. bersabda, Seorang wanita masuk neraka karena kucing. Ia menahannya hingga mati. Ia masuk neraka karenanya, karena ia tidak memberinya makan sebab ia menahannya, dan tidak membiarkannya makan serangga-serangga tanah, (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Rasulullah berjalan melewati rumah semut yang terbakar, kemudian dia bersabda, Sesungguhnya siapa pun tidak pantas menyiksa dengan api, kecuali pemilik api itu sendiri (Allah), (Diriwayatkan Abu Daud. Hadits ini Shahih).

Dalam Kitab Suci Alquran banyak ayat-ayat yang mengacu pada kesucian hidup hewan dan hak-hak hewan yang sederajat untuk hidup dalam damai, mencari Tuhan, dan berkembang menuju kesadaran Tuhan, serta serupa dengan manusia di bumi ini.

“Tidakkah kamu melihat bagaimana segala yang di langit dan di bumi menyanjung Allah, dan burung-burung mengembangkan sayap-sayap mereka? Masing-masing – Dia mengetahui solatnya, dan sanjungannya, dan Allah mengetahui apa yang mereka buat. (Surah 24:41)

Kitab Suci Alquran sama sekali tidak menganjurkan agar kita menjadi pencabut nyawa mereka:
“…Begitulah Kami menundukkan mereka untuk kamu, supaya kamu berterima kasih.” (Surah 22:36)
“Dia yang melantik kamu khalifah-khalifah (pengganti-pengganti) di bumi.” (Surah 35:39)
Alquran menekankan bahwa hewan dan manusia memiliki hak yang sama terhadap kekayaan bumi , juga mengatakan bahwa di mata Tuhan, mereka sama dengan manusia, dan Tuhan berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang sama persis dengan manusia(Surah 25:48-49, 32:27, 79:31-33)

Dosakah kamu memelihara satwa atas nama sayang? Padahal mereka (satwa) bertasbih pada sang pencipta drngan cara sendiri-sendiri yaiti menjalankan fungsi ekologis di alam.
Masih mau pelihara satwa liar ?
Biarkan mereka hidup bebas di habitat alaminya.

Minggu, 31 Januari 2016

William saddened by death of British pilot shot by elephant poachers in Tanzania

Roger Gower, 37, managed to land his stricken helicopter safely, saving the life of a South African colleague, before succumbing to gunshot fired by poaching gang from high-powered rifle


Hero Edgbaston pilot Roger Gower saved helicopter passenger's life


The Duke of Cambridge has said he is “very saddened” by the death of a British helicopter pilot shot dead by elephant poachers in Tanzania, as it emerged the mortally wounded flyer saved his colleague’s life by fighting to land safely before dying.
Roger Gower, 37, was flying at low-level during an anti-poaching mission searching for gunmen who had killed three elephants when they broke cover and shot at him from the ground with a high-calibre rifle.
A bullet is understood to have passed up through the floor of the aluminium and fibre-glass helicopter, hitting Mr Gower first in the leg then in the shoulder before exiting through the roof.
Despite being mortally injured, he brought the damaged helicopter down into a tree before it hit land, preventing it from exploding and saving his South African colleague, Nicky Bester. Mr Bester was able to jump to safety as the aircraft came to land and hid from the poachers in a thicket.
The Duke, who was campaigned against the poaching trade in Africa, said he did not personally know Mr Gower, but paid tribute to the pilot.
The site of the wreckage in the Maswa Wildlife Reserve
A statement from Kensington Palace said: “He was very saddened to hear of yet more lives lost due to poaching.”
Photographs showed the stricken aircraft lying in the savannah grass on its side, bullet holes clearly visible in its chassis and its seats spattered with blood.
Tanzanian police arrested three men, Jumanne Maghembe, Tanzania's natural resources and tourism minister, said. “This is a tragic, very sad and extremely unfortunate event,” he told The Telegraph.
"The suspects are in the hands of police," he said. "They are cooperating, and soon more people making up the poaching gang will be netted and brought to justice."
Friends and family paid tribute to the former accountant from Birmingham who retrained as a pilot and moved to east Africa eight years ago to fly touristic safaris and, latterly, anti-poaching operations with the Friedkin Conservation Fund (FCS).
Andy Payne, Mr Gower’s colleague and housemate, described him as a “respected and professional pilot” who was becoming increasingly invested in working to stop the “wanton killing” of Tanzania’s elephants.
Pratik Patel, another contemporary of the FCS, said he had been "a great guy, a great friend, a great pilot".
Despite being mortally injured, Mr Gower  brought the damaged helicopter down into a tree before it hit land saving his colleagueDespite his injures, Mr Gower brought the damaged helicopter down into a tree before it hit land saving his colleague
"Roger was an amazing person, an amazing character, full of joy, full of life,” he said. “He loved Africa, he loved Tanzania and he loved being in the bush."
Tanzania has lost two thirds of its elephant population in just four years up to 2014 as demand from Asia for their tusks for carved trinkets set an army of well-armed and resourced poachers into its game reserves and national parks.
Mr Gower and Mr Bester had been sent to track the poachers after reports came in about shots heard in the bush around 12 miles from their base, and two elephants having been killed.
As they hovered over a third elephant carcass they had discovered, the poachers broke cover.
“They must have very close to them because one of the poachers fired at Roger,” Mr Payne said.
“Roger was injured but thankfully he was flying low and slow and under the circumstances, he did a fantastic job of putting the helicopter down in a way that his colleague was able to walk away with minor injuries. It was a hard landing but he managed to roll it onto its side.”
Despite being mortally injured, Mr Gower  brought the damaged helicopter down into a tree before it hit land saving his colleagueThe downed helicopter belonging to Roger Gower
Mr Bester leapt out of the helicopter midair as it crashed and was injured, according to a spokesman from the Tanzania's National Parks, Pascal Shelutete.
"Three elephant carcasses that were found indicated that whoever shot the chopper down was on a serious illegal hunting spree," he said, adding such poachers can be "heavily armed with sophisticated military weaponry".
Although the aircraft grounded deep in the bush, Mr Bester had a satellite phone as well as a radio and GPS and was able to call for help. When it arrived, Mr Gower could not be saved but his colleague was taken to hospital.
Mr Payne said his late friend had always been safety-conscious. "He always erred on the side of caution, would pay attention to aviation accident reports and we would discuss them to ensure we would never fall into those traps," he said.
Mr Payne added that he, Mr Gower and Mr Bester shared a house near their base in Arusha. He said his friend was “obviously very shaken up but recovering well physically”.
“He has some non-life threatening injuries from the heavy landing but it could have been much worse,” he said. “He and Roger worked together a lot, all three of us have been friends from before Roger joined us last year but it was the first time we’d all worked together and it was great.”
Prof Maghembe praised Mr Gower’s actions in bring the helicopter safely to the ground. “They were lucky in the sense that the helicopter hit a tree before it hit the ground, so that reduced the impact and it did not explode as it might have,” he said.
He said that the new administration of John Magufuli, the president who has been hailed for his anti-corruption efforts, was determined to crack down on poaching, pointing to a series of arrests of crime syndicate kingpins in recent months.
“As long as there is a big market for ivory, they will give us trouble, but I am very hopeful that we will put a stop to this problem,” he said. “We are tracking down the kings and queens who run this business. I hope in two or three months we should be able to reduce these things to nearly zero.”
Mr Payne said Maswa, on the edge of the fabled Serengeti National Park, had been blighted by the same poaching epidemic that had hit other parks and reserves in Tanzania but that the efforts of the FCS and others were helping turn the corner.
Mr Gower flew primarily tourist safaris but had become increasingly passionate about anti-poaching operations, he said.
“The more you get involved, the more you are exposed to it, seeing the wanton killing, the more you want to be able to stop it in whatever way you can,” he said.
“We want Roger’s family and parents to know what he did in terms of making a difference to Tanzanian wildlife and knowing he had so much support behind him and that we will do all we can to find out who did this.”
Roger Gower, 37, was taking part in an anti-poaching operation with authorities in Tanzania Roger Gower was taking part in an anti-poaching operation with authorities in Tanzania
He said that in FCS’s seven years of tracking poachers - who are employed by criminal syndicates but are usually impoverished local villagers - there had rarely been violent confrontations.
“Rangers and game scouts on the ground confront them all the time and every year there’s a handful of people killed,” he said.
“It’s the first time one of our aircraft has come under fire and we have paid the most tragic price.”
Mr Gower’s parents, thought to be solicitors working in the Midlands, were due to arrive in Tanzania this weekend to meet his colleagues and find out more from police about what happened.
Meanwhile his friends and family posted tributes on social media using the hashtag #flyhighcaptainroger.
Jo South, Mr Gower’s cousin, wrote: “My amazing cousin, forever in our hearts. So very proud.”
http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/africaandindianocean/tanzania/12132450/British-pilot-shot-by-elephant-poachers-in-Tanzania-saved-passenger.html

Sabtu, 30 Januari 2016

NYOMIE DAN MAX : Gadget apa mengenal alam ?


Menikah, Tak ada alasan buat gantung carrier anda ?

Ketika anak-anak berusia tiga tahun pada umumnya mulai sibuk mengenal gadget, Max tengah asyik bermain-main di jalur pendakian. Saya terpukau, sudah 15 puncak gunung dan bukit ia jejaki, termasuk Puncak Gunung Rinjani yang ia daki sebelum usianya genap dua tahun!
Saya berkenalan dengan ibu Max, seorang dokter hewan bernama Nyoman Sakyarsih. Saya menyapanya dengan nama Mba Nyomie. Pengikutnya di Instagram sudah mencapai 7.880 orang, dan saya adalah salah satunya. Melihat foto-foto yang diunggah @nyomiez di Instagram seperti membaca cerita perjalanannya bersama Max. Komentar yang ia terima di media sosial pun beraneka ragam. Dukungan dari para pengikutnya, tentu saja. Pernah pula ia menerima cibiran karena membawa anak balita dalam pendakian gunung. Apa pun itu, saya terkesan dengan segala hal yang sudah mereka lalui selama melakukan perjalanan-perjalanan.
Pekan lalu saya mencoba menghubungi Mba Nyomie. Pesan yang saya kirim melalui WhatsApp pun sempat menggantung selama dua hari. Tak dijawab. Ternyata, ia bersama Max baru usai mendaki Gunung Argopuro di Jawa Timur. Ah, saya semakin penasaran untuk berkenalan dengan mereka! Inilah hasil perbincangan kami.
Halo Mba Nyomie! Apa kabar? Apa kesibukan Mba Nyomie akhir-akhir ini?
Kesibukan, ya biasa bekerja sehari-hari, mengurus hewan sakit aja.
Baru turun gunung sama Max ya? Dari mana?
Iya, ini baru turun dari Argopuro tanggal 19 Januari 2016.
Ada rencana jalan lagi sama Max? Kapan dan ke mana?
Rencana yg diinginkan sih banyak tapi ya. Lihat situasi belum tau kapan bisa libur lagi. Tapi bulan depan, karena ada acara seminar di Bali, mungkin sekalian jalan.
Ketika kebanyakan orang tua lebih milih bawa anaknya main ke taman, mall, atau pantai, kenapa Mba Nyomie milih bawa Max ke gunung?
Sebenernya Max juga suka mall kalo ada playing ground-nya atau pantai karena banyak air di sana. Tapi aku sendiri ga begitu suka keramaian, jadi lebih was-was mengawasi anak kalau banyak orang. Kebetulan, Max suka banget diajak mendaki setelah (pendakian) yang pertama kali. Akhirnya berlanjut sampai sekarang. Refreshing bisa sekaligus buat ibu dan anak.
Kapan pertama kali Max naik gunung?
Usia lima bulan.
Lima bulan? Gunung pertama yang didaki Max?
Kalau usia 5 bulan gunungnya didaki Max digendong itu di Bromo, tapi kalau mulai trekking jalan sendiri ya di Rinjani usia satu tahun 11 bulan.
Udah berapa gunung yang didaki Max?
Sebenernya dulu ga bermaksud hitung gunung tinggi-tinggi, jadi kita hitung puncak-puncak, termasuk bukit-bukit kecil seperti di Dieng. ya kalau ditotal bisa 15 puncak.
Ribet ga sih bawa anak kecil naik gunung? Misalnya kebutuhan air untuk susu atau bersih-bersih? Belum lagi kalau Max rewel di perjalanan. Gimana cara menyiasati kebutuhan Max selama pendakian?
Ribet banget! Semakin besar usianya justru tantangan ribet di perjalanan semakin besar. Kalau dulu, bayi cuma tidur, minum susu, makan bubur, tidur lagi. Sekarang dia semakin merasa berhak trekking sendiri. Jadi orang yang menggendong juga semakin terbebani (dengan) kehebohannya loncat-loncat di gendongan. Padahal, banyak kondisi di mana dia ga mungkin jalan sendiri. Misalnya medan terlalu licin atau tanjakan dan turunan terjal. Sejak kecil ga ada masalah untuk kebutuhan air, dia mudah beradaptasi. Hal yang susah hanya makan, karena seperti banyak anak seumur dia, makan selalu pilih-pilih. Makanya aku kadang mempersiapkan menu sendiri untuk dia, dan beberapa alternatif kalau dia ga suka.
Itu kesulitan terbesar akhir-akhir ini selain urusan jalan. Apalagi kemarin ke Argopuro yang memang trek-nya terpanjang se-Jawa. Umumnya Max ga pernah rewel, teman-teman baru yang mendaki bersama biasanya seneng banget dengan keceriaannya. Hanya saja kalau berhenti trekking untuk beristirahat, Max ga betah di dalam gendongan dan memaksa turun. Ini artinya yang gendong ga boleh istirahat. Bahkan saat kita kepepet harus trekking sampai malam hari, dia bisa lebih diam dari siang walaupun ga tidur.
Kesabarannya cukup besar untuk kondisi urgent. dan juga sekarang dia semakin kuat terhadap dingin. Aku juga termasuk orang yang detail dalam mempersiapkan manajemen perjalanan, yang sudah pernah mendaki bareng pasti hapal karena bawaanku sudah seperti kantong Doraemon. Segala macam barang, emergency kit, juga ada. Jadi semua kondisi bisa diantisipasi.
Pengalaman paling berkesan bersama Max dalam perjalanan?
Semua pengalaman berkesan, ga ada yg ga berkesan. Tertuang di Instagram ya, moga-moga kalau sempat bisa jadi buku. Awalnya gelisah, walaupun aku menilai sejak awal Max sangat menyukai perjalanan-perjalanan kami. Tapi aku ga menyangka, semakin besar dia semakin semangat. Tadinya pengen udahan karena kalau makin berat, sudah ga mungkin digendong juga. Tapi ya sekarang lihat kondisi aja.
Respon orang-orang gimana, Mba? Kayaknya pendaki rebutan main sama Max nih di tempat camp. Hehe. Atau pernah ada yang ‘mencibir’ karena mendaki bawa anak kecil?
Hehehehe… Iya untuk ‘gunung-gunung sejuta umat’ pasti Max jadi rebutan. Seperti waktu di Semeru dan Dieng. Makanya aku lebih prefer gunung yang sepi atau waktu yang ga peak season. Lebih nyaman juga karena sebenernya Max ga suka dicubit-cubit gemes. Tapi kejadian kemarin turun gunung di Bremi ternyata ketemu mbak-mbak yg ternyata follower Instagram, jadi histeris mereka. Hehe…
Kalau mencibir, dulu sudah pernah dialami semua. Tapi sekarang sudah 15 kali, mereka mau bilang apa sih? Terserah lah, yang penting anakku bahagia. Karena setiap hari aku bisa bekerja non-stop, jadi waktu untuk Max bermain bersama ibunya sangat kurang. Di gunung inilah aku baru bisa full time mengawasi dia dengan detail.
Mungkin banyak orangtua yang penasaran, apa sih harapan Mba Nyomie membiasakan anak berinteraksi dengan alam sejak kecil? Ada saran atau nilai yang mau dibagikan?
Awalnya aku cuma ingin dia bisa menghirup udara segar karena kita hidup di perkotaan. Tapi saat dia mulai terbiasa menghadapi saat-saat sulit ketika mendaki dan bisa beradaptasi dengan baik, aku baru mulai merasa dia benar-benar anak yang hebat. Sudah lama sebenernya aku ga mendaki, sampai akhirnya dia lahir. Ga pernah berpikir untuk mendaki lagi karena mendaki gunung itu melelahkan. Padahal banyak pengembangan mental yang berawal dari sana.
“Walaupun sampai usia 3 tahun dia belum bicara, tapi kedewasaan dan ketabahannya jauh di atas rata-rata anak seusianya. Itu hanya bisa kulihat di lapangan, tidak di rumah, tidak di sekolah, ketika dia bisa bermanja-manja dengan semua orang di dekatnya. Jadi pendakian terakhir inilah yang paling bikin aku terharu”.
-Nyoman Sakyarsih
Nilai tentu saja ga hanya sebatas menghargai keindahan alam, tidak buang sampah sembarangan, karena ironisnya untuk menjaga alam sebenernya mudah dengan tidak mendaki karena pendaki itu yang selalu bikin banyak sampah. Aku ingin dia punya kenangan yang hebat, menghargai apa yang ada, menghargai apa yang dia miliki, menghargai orang lain dan semua yang ada di sekelilingnya.
Oh ya tambahan, tentu saja dengan kesulitan hidup kita yang bagaimana pun tetap lebih sulit hidup di gunung. Jadi aku juga berharap, Max bisa melalui sesulit apapun perjalanan ke depan, seperti yang sudah selalu kita lalui
Semua foto diambil dari Instagram @nyomiez.

Kamis, 28 Januari 2016

Perbatasan Bengkulu Sumsel Di Hutan Lindung Ini, 35 Rafflesia Mekar Sempurna

BENGKULU - Kawasan Hutan Lindung Raje Mendare, Gunung Patah, yang terletak di perbatasan Provinsi Bengkulu dengan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), menjadi salah satu lokasi tumbuhnya habitat bunga terbesar di dunia, rafflesia, baik bunga rafflesia jenis arnoldii maupun rafflesia jenis bengkuluensis yang merupakan bunga rafflesia jenis baru.
Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka (KPPGPPL), Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, mencatat, sepanjang 2014-2015, sebanyak 35 kuntum bunga rafflesia mekar sempurna di kawasan hutan itu
''Lokasi bunga rafflesia yang mekar terbilang cukup ekstrem sehingga mempunyai daya tarik tersendiri bagi peminat wisata alam. Itu karena rata-rata lokasi rafflesia mekar cukup jauh dari permukiman penduduk,'' kata Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kabupaten Kaur, Nopri Anto, Kamis (28/1/2016).
Ia menjelaskan, bunga rafflesia arnoldii merupakan jenis rafflesia yang paling terkenal dan terbesar dari semua jenis yang ada di dunia. Bunga jenis itu memiliki diameter sekira 70-110 cm serta mempunyai warna oranye sampai oranye tua pada perigon.
Jenis rafflesia arnoldii ini, Nopri Anto mengemukakan, memiliki sebaran geografis yang paling luas, dengan sebaran terbanyak di Bengkulu.
''Kami menemukan site lokasi habitat rafflesia saat ekspedisi pendakian gunung patah tahun 2015,'' ucap pria yang juga salah satu anggota tim Ekspedisi Gunung Patah ini.
Sementara itu, rafflesia bengkuluensis merupakan jenis terbaru di Indonesia. Jenis ini terbilang langka sejak ditemukan dan dideskripsikan oleh Agus Susatya bersama dua rekannya dari Malaysia, Arianto, et Mat-Salleh di Desa Talang Tais, Kabupaten Kaur, tahun 2005.
Jenis ini, Nopri memaparkan, berukuran medium dengan diameter bunga antara 50-55 cm. Selain itu, helai perigon berwarna oranye tua atau merah batu bata.
''Rafflesia bengkuluensis mempunyai sebaran geografis terbatas, seperti di Talang Tais Kelam Tengah dan Padang Guci Hulu Kabupaten Kaur,'' kata Nopri.
Tidak hanya dua jenis bunga rafflesia yang bermekaran di kawasan Raje Mendare. Nopri mengatakan, di kawasan itu juga ditemukan habitat bunga Bangkai (amorphpophallus titanium) yang mengeluarkan bau busuk. Selain itu, ia menjelaskan, bunga bangkai ini tumbuh menjulang tinggi dengan ketinggian bisa mencapai sekira 4 meter serta berdiameter sekira 1,5 meter.
''Bunga bangkai ini termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan (araceae). Bunga ini merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia dan bunga ini juga ada di kawasan Hutan Lindung Gunung Patah,'' tutur Nopri.
Secara terpisah, anggota tim Ekspedisi Gunung Patah lainnya, R Tri Prayudhi mengungkapkan, saat ini tim Ekspedisi Gunung Patah tengah membuat peta dengan pemodelan spasial GIS, sebaran habitat rafflesia di kawasan Raje Mendare, khususnya di wilayah Padang Guci, Kabupaten Kaur.
''Kami berharap dengan adanya peta yang terus di-update, titik-titik mekarnya bunga rafflesia dapat menjadi sebuah informasi untuk pengembangan wisata di Bengkulu,'' ucap pria yang akrab disapa Jack ini.
Ia menambahkan, keragaman jenis tumbuhan dan satwa liar yang terdapat di kawasan Raje Mendare Gunung Patah membuat kawasan ini tidak beralih fungsi menjadi perkebunan.
''Jangan sampai sebutan Bengkulu sebagai ‘land of rafflesia’ cuma omong kosong kalau habitatnya terus dirambah,'' seru Jack. (erh)

http://news.okezone.com/read/2016/01/28/340/1299051/di-hutan-lindung-ini-35-rafflesia-mekar-sempurna

Rabu, 27 Januari 2016

MISTERI GUNUNG PATAH DI PERBATASAN BENGKULU - SUMSEL


BENGKULU - Selain memiliki gunung berapi Bukit Kaba di Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, dengan tinggi sekira 1.938 Mdpl. Provinsi Bengkulu juga memiliki Gunung Patah setinggi 2.817 Mdpl, yang terletak di garis perbatasan Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan (Sumsel).
Tepatnya di kawasan hutan lindung Raje Mendare yang merupakan kawasan berhutan dengan memiliki mata air bagi dua provinsi, Bengkulu dan Sumsel

Gunung Patah itu diketahui memiliki tiga puncak utama, yakni Puncak Danau 2.550 Mdpl, puncak kawah 2.650 Mdpl dan puncak Gunung Patah masih 'perawan' alias belum ada jalur resmi untuk melakukan pendakian.
Namun, Gunung Patah masih menjadi misteri, apakah merupakan gunung vulkanis yang membahayakan atau hanya gunung api purba. Kerapatan vegetasi memperkaya ragam jenis satwa liar.
Gunung Patah itu berada di kawasan hutan lindung Raja Bendare, dengan wilayah titik terdekat dari Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, dan Desa Manau 9, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, atau sekira 6 hingga 7 jam dari Kota Bengkulu.
Salah satu tim ekspedisi pendaki Gunung Patah, R Tri Prayudhi menceritakan pendakian Gunung Patah yang telah dirintis sejak 2002. Itu tim lapangan yang terdiri dari sembilan orang dan lima manajemen tim.
Dalam ekpedisi itu, ia bersama rekannya yang alumni kampala, Tri Putra Kusuma, Mukti Aprian, dan Nopri Anto. Hanya saja, kata pria yang akrab disapa Jack ini, pendakian hanya mencapai titik 1.700 - 2.000 Mdpl, dengaan titik optimum 1.800 Mdpl, atau di sisi kanan Sungai Cawang Kidau.
Berdasarkan pengamatan lapangan, terang Jack, tim pendaki dari Kampala Unib, sempat menemukan beberapa spesies mamalia besar. Seperti owa, siamang, rusa sambar, jejak-jejak beruang, dan macan tutul. (abp
Tidak hanya itu, tumbuhan liar yang teridentifikasi di kawasan itu, ada 20 spesies anggrek hutan, armophopalus (bunga bangkai) Rafflesia Bengkuluensis, dan kantong semar.
''Jalur pendakian selama perjalanan merintis hutan, vegetasi rapat, berupa rotan manau. Lalu menyeberang dua sungai besar. Yakni Sungai Padangguci dan Sungai Cawang Kidau,'' kata pria yang juga senior Mapala Kampala Universitas Bengkulu (Unib) itu kepada Okezone, Selasa (26/1/2016).
Selanjutnya, beberapa rekan dari Mapala Palasostik Unib, kembali memulai melakukan eksplorasi melalui sisi timur dari Gunung Patah. Persisnya melalui Desa Candi yang masuk ke Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan.
Ia menambahkan, pada Mei 2015 beberapa eks pendaki Gunung Patah dengan tambahan personel kembali mencoba melakukan eksplorasi.
''Kita belum dapat mencapai target berupa danau, kawah, dan puncak Gunung Patah di ketinggian 2.817 Mdpl karena berbagai keterbatasan. Berdasarkan report para pendaki, bahwa kawan Palasostik telah berhasil mencapai puncak patah, namun untuk kawah dan dan danau tidak ditemukan,'' jelas Jack.
Tidak sampai di situ, pada Agustus 2015 beberapa pendaki dari mahasiswa UMY mencoba melakukan eksplorasi dari jalur timur Sumatera Selatan. Misi berhasil, yakni mencapai puncak Gunung Patah.
Kemudian, pada September 2015 beberapa pendaki dari Muara Enim, Sumatera Selatan, mencoba mendaki dari sisi timur laut. Lalu berhasil menemukan tapal batas provinsi, juga di puncak kawah yang ketinggiannya 2.600 mdpl.
''Gunung Patah masih menjadi misteri, apakah merupakan gunung vulkanis yang membahayakan atau hanyalah gunung api purba. Kerapatan vegetasi memperkaya ragam jenis satwa liar. Dari peta satelit kawasan Gunung Patah merupakan salah satu hutan topis yang masih alami di sepanjang bukit barisan dari NAD hingga lampung,'' tambah Jack.
''Kita akan kembali menggelar explorasi Gunung Patah di bulan Mei 2016 mendatang guna mengetahui misteri Gunung Patah,'' pungkas Jack. (abp)
Gunung Patah itu diketahui memiliki tiga puncak utama, yakni Puncak Danau 2.550 Mdpl, puncak kawah 2.650 Mdpl dan puncak Gunung Patah.
M.OKEZONE.COM|OLEH OKEZONE.COM

Selasa, 26 Januari 2016

Sang Cantigi (Vaccinium Varingiaufolium) di Jurang-Jurang Gunung Patah, Rimba Belantara Perbatasan Bengkulu- Sumsel


Ciri vegetasi pada sub alpin di cirikan dengan bentuk pohon yang rendah, kanopi atau tutupan tajuk tidak lebar, hal ini akan selalu tampak pada daerah puncak-puncak pegunungan.
Salah satu jenis pohon yang ditemukan oleh pendaki dari‪#‎SummitAdventure‬ ‪#‎Prabumulih‬ dan ‪#‎BlukarAdventure‬ ‪#‎TanjungEnim‬pada bulan september 2015 di Gunung Patah perbatasan Bengkulu -Sumsel, adalah jenis pohon Cantigi.
Pohon cantiggi ditemukan sejak ketinggian 2600 mdpl, dan tersebar di kawah gunung patah.
Populasi pohon Cantigi sekarang masih bisa ditemukan di hampir semua gunung di Indonesia. Cantigi merupakan tumbuhan yang tahan terhadap asap belerang dan tanah kawah beracun.
Tapi sayang banyak pendaki gunung yang tidak tahu dengan Cantigi. Cantigi masih kalah dengan kepopuleran Edelweis yang di puja dan menjadi legenda bunga abadi di puncak gunung oleh para pendaki.
Pohon Cantigi (Vaccinium Varingiaufolium) memiliki beberapa julukan antara lain, seperti Manis Rejo (Jawa), Cantigi (Sunda), Delima Montak (Kaltim). Pohon yang cantik ini biasanya hidup atau mudah terlihat di vegetasi menjelang puncak atau di puncak gunung, sama dengan wilayah tumbuhnya Edelweis.
Cantigi dominan tumbuh di hutan Sub Alpin. Juga ada yang hidup di pantai tetapi lebih terkenal Cantigi gunung.
Pohon Cantigi banyak memberikan bantuan terhadap pendaki, Akarnya yang kuat mencengkeram tanah dan tebing sering menjadi tumpuan atau pegangan pendaki ketika merangkak naik dan turun gunung.
Pohon ini pulalah yang melindungi pendaki dari terjangan badai dan juga menyediakan lantai yang nyaman untuk bivak. Ia hasilkan buah dan pucuk daun yang bisa dimakan bagi pendaki yang tersesat. Cantigi memiliki daya tahan yang hebat, dapat tumbuh di tempat yang tinggi dimana sedikit tersedia akses makanan dan nutrisi. Sehebat apapun badai, Cantigi tak akan tumbang. Kuat mengadapi cuaca yang ekstrim dingin, dan menepis panas yang lekang.
Populasi Cantigi bisa dinikmati dengan indah saat bulan Juli - Agustus, karena pada bulan - bulan tersebut Cantigi akan berbunga, bunganya kecil berwarna ungu gelap, berbentuk lonceng dan berbau seperti almond. Kayunya sangat keras, daunnya agak tebal. Ketika muda ia bewarna kemerahan, kemudian akan berubah menjadi oranye, kekuningan dan akhirnya hijau. Saat bulan itu juga Cantigi akan berbuah, berbentuk seperti beri warna hitam.
Dengan besarnya kegunaan yang diberikan, Cantigi dan pendaki sebaiknya saling menjaga. Mari kita mulai palingkan wajah dan harapan baik ke Cantigi.

Senin, 25 Januari 2016

Bengkulu Runner Test Running Trail di Bukit Kaba


"Nyaris kacengklak beberapa kali, terjelepok 3 kali, prosotan 2 kali, dan banyak lagi momen luar biasa selama di hutan ujar jack yang membuka jalur saat lari turun dari puncak.
Jika pada umumnya event lari dilakukan di jalan-jalan perkotaan, maka ‪#‎BengkuluRunner‬ mencoba hal yang berbeda dengan mengadakan event lari perdana di perbukitan dan pegunungan dengan lokasi TWA Bukit Kaba pada bulan september 2015 lalu.
Kategori lari seperti ini sering disebut dengan lari trail/trel atau lari halang rintang. Inilah cara unik petualangan para pelari dari Bengkulu runner yang setiap minggu pagi ngumpul di Sport center pantai Panjang untuk hidup sehat. Berlari di alam bebas sambil menghirup udara bersih sepuasnya dan memanjakan mata dengan pemandangan alamnya itu seru banget.
Namun kali itu gelar lari adventure perdana agak sedikit masalah dengan kabut asap yang ternyata kebakaran hutan di sumsel sampai juga ke wilayah Bengkulu.
Harusnya kami memulai lari jam 6.30 pagi tapi karena kabut alam yg bercampur dengan kepekatan kabut asap kami memutuskan memulai lari pada jam 08.00. Rahmat (Alumni Dimpa Univ Muhamadyah Malang) mulai melipat sarung tidurnya dan mengencangkan tali sepatu barunya. Jack (Alumni Mapala Univ Bengkulu) sudah tidak tahan ingin segera lari menuju puncak.
Dia bilang sudah berkali-kali ke puncak bukit kaba tapi menempuhnya dengan berlari baru kali ini. Devi istri saya yg mantan Ketua Mapala Universitas Lampung juga ingin segera mencoba track bukit kaba karena didengarnya didalam bukit itu ada byk sumber air panas alam (hot springs), "ini barang mahal", begitu katanya.
Tentu saja ini pengalaman baru kami karena berlari dengan sensasi asap dan jarak pandang 5 m tapi untungnya kami sdh siapkan masker untuk melindungi pernafasan kami. Beberapa pendaki gunung melihat heran karena katanya baru ini melihat ada yang berlari di bukit ini dengan bercelana pendek di suhu udara sekira 20°C dibawah 10°C dipuncak. "Jika kamu bergerak tubuhmu tetap panas meski udara diluar dingin" ujar Jack mantan mahasiswa pertanian yg biasa mengukur suhu tubuh kelinci percobaannya😀 di kandag peternakannya.
Targetnya sampai di puncak adalah 40 menit tapi kami sampai di puncak 1 jam. Kami tidak tahan untuk berhenti karena harus mengambil foto dibeberapa spot. Lari memang penting tapi foto jauh lebih penting😅.
Diperjalanan bertemu dengan rombongan polisi muda yg 2 malam bermalam dipuncak untuk kegiatan pembaretan. Bukit ini ternyata banyak dimanfaatkan langsung oleh orang2 untuk manfaat kegiatan fisik dan mental semoga mereka polisi2 muda itu membalas kebaikan alam bukit ini dengan menjaga dan menegakan hukum dan menjaga lingkungan disana, sesuai sumpahnya.
Dari puncak ketinggian 1973 mdpl Bukit Kaba Curup Bengkulu kabut alam bercampur kabut asap pekat kiriman provinsi tetangga semakin tebal.
Akibatnya kami tidak bisa melihat kawah vulkanik di kalderanya. Usai berfoto kami tidak berlama dipuncaknya karena kami harus melanjutkan proyek lari kami. Berlari dengan menuruni tebing curam nampaknya lebih mudah dari berlari menanjak tapi justru kehati-hatian harus tetap menjadi prioritas jangan sampai kami cedera, ingat kami ingin terus berlari hingga tua.
Ditengah pelarian dalam hutan lebat kami menemukan apa yg dicari istri saya sumber air panas alam (hot springs). Istri saya bilang sewaktu dia tinggal di Taipei dia melihat hanya orang kaya yang bisa menikmati hot springs tapi di bukit ini orang miskinpun bisa sepuasnya berpancuran dibawahnya bahkan jika mau sedikit gila bisa berendam di kolamnya, tapi ingat jangan lama-lama karena saya pesan setengah matang untuk dagingmu.
Kami berlari meneruni kaba melewati beberapa pendaki yg diantaranya masih peduli dengan alam dengan membawa kembali sampah2 makanan yg dibawanya meski dijalan masih banyak sampah ditinggalkan oleh pendaki. Sungguh mereka tidak berterimakasih pada alam.
Kami bertekad pada pelarian kami yang kedua di bukit kaba akan membawa karung untuk mengumpulkan sampah2 dibukit ini dan kami datang kembali untuk memperbaiki jarak tempuh dan kecepatan lari kami. We'll come again on you Kaba Hill
(Di sari dari groups Bengkulu Runner pengalaman bang ‪#‎uncu‬syamariefa)
Nah sobat Mountaineer berikut di bawah ini alasan berpetualang lari marathon di pegunungan.
Bagi pelari dengan jiwa petualang atau mereka yang jenuh menjajah berbagai rute jalanan kota, melirik jalur trail menjadi progresi yang alami. Selain demi memenuhi rasa ingin tahu, ada alasan lain mengapa lari trail patut dicoba.
Meninggalkan aspal dan merasakan pengalaman menjejakan kaki di alam menawarkan sensasi unik. Berlari melintasi hutan atau bukit memberikan tubuh bentuk latihan fisik yang berbeda. Permukaan tanah jalur trail juga tidak sekeras permukaan aspal. Kebaikan lari trail mencakup segala aspek, mulai dari fisik, mental, emosional, dan spiritual. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai lari trail.
Baik Untuk Tubuh
Lari di jalur trail akan mengurangi stres yang ditimbulkan dari hentakan kaki melawan permukaan keras. Sebagian tenaga yang berpindah dari aspal ke pergelangan kaki, tulang kering, lutut, dan pinggul akan berkurang ketika kaki mendarat di jalur trail karena permukaannya yang lebih lunak.
Baik Untuk Otak
Berada di tengah-tengah jalur trail merupakan kesempatan untuk melarikan diri dari penatnya kehidupan kota besar. Menggantikan kacaunya lalu lintas dan hiruk pikuk perkotaan dengan kicauan burung dan suara dedaunan pohon-pohon tertiup angin akan memberikanmu perasaan yang benar-benar asing – namun positif. Menghabiskan waktu bersama alam dapat menjadi suatu pengalaman spiritual bagi seseorang.
Coba Dengan Hati-hati
Suatu jalur tidak harus curam, berbatu atau dipenuhi akar pohon serta semak belukar untuk disebut ‘trail’ – atau untuk memberikan pengalaman positif bagi jiwa raga. Cukup dengan berlari di jalur tanpa aspal, seperti tanah, pasir, atau kerikil, akan melatih tubuhmu dengan cara yang berbeda dan kamu akan merasakan pergantian suasana dari jalanan biasa.
Pemula disarankan untuk pertama berlari di jalur dengan permukaan rata sebelum mencoba jalur yang lebih menantang, seperti rute dengan permukaan miring atau tanjakan.
Bagi yang telah ‘naik kelas’ ke jalur trail dengan permukaan berliku dan curam penting untuk selalu berhati-hati walaupun kamu merasa telah berpengalaman. Alam tidak bisa diprediksi dan selalu ada resiko cedera akut seperti sprain pergelangan kaki .
Namun berlari di permukaan yang tidak rata bisa membuatmu lebih kuat secara keseluruhan karena tubuh akan lebih banyak menggunakan otot-otot kecil yang berfungsi memberikan stabilitas dan kesimbangan – terutama di sekitar pergelangan kaki.
Poin terakhir untuk diingat adalah untuk bersabar. Jangan memaksakan diri, terutama bagi yang baru pertama atau beberapa kali mencoba lari trail. Berikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan bentuk latihan baru ini.