Rabu, 12 November 2014

Mount Vulcano of Kaba Hills │Bukit Kaba - Bengkulu - Sumatran-Indonesia

Hamparan hijau di kaki Bukit Kaba benar-benar memanjakan mata, warna-warni buah dan sayur mayur yang tumbuh di sana membuat lansekap alam kian memikat dengan aktivitas ibu-ibu di tengah perkebunan sayur mayur. Panorama yang disuguhkan pun digenapi tampilan gunung api kembar dan gunung hitam yang telah padam.

Ada banyak gunung yang dapat di daki di Provinsi Bengkulu, seperti : Bukit Daun dan Bukit Kaba, gunung patah, gunung seblat dan gunung Hulu Palik. Namun Bukit Kaba yang lebih popular karena terkenal ramah untuk pendaki pemula. Letak gunung api ini berada Kabupaten Rejang Lebong dan kepahiang, merupakan kawasan resapan air untuk kedua kabupaten tersebut.


Pintu pendakian Bukit Kaba terletak di Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupuh Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Ketinggian puncak Bukit Kaba sekira 1.973 m dpl dimana terdapat kawah besar di ketinggian sekira 1.700 m dpl yang menyuguhkan pemandangan menarik. Rutenya pun sudah terarah meliputi dua jalur, yakni jalur tanah yang biasa digunakan untuk trekking dan jalur aspal yang bisa dilewati oleh ojek. Jalur aspal dibuat sejak 1994 untuk melancarkan petugas yang pulang pergi mengamati aktivitas gunung.

Ditinjau dari sejarah letusannya, Bukit Kaba adalah gunung api aktif tipe A, yaitu tipe gunung yang pernah meletus tahun 1600 sampai sekarang. Ada 8 kawah yang dimiliki gunung ini tapi 5 diantaranya tertutup vegetasi. Bukit Kaba senantiasa dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMB) yang bisa ditemui di kaki gunung. Petugas akan menginformasikan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat bahwa gunung ini aman atau tidak untuk didaki. Meskipun selama ini gunung menunjukkan pertanda baik-baik saja, Anda yang hendak naik disarankan untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu ke pos penjaga.

Pos Pendakian ada di desa Sumber Urip, Talang Markisa, dari pos ini ada dua jalur, melalu jalur hutan dan jalur aspal yang dapat dilalu roda dua bahkan roda empat. Pendakian melalu jalur hutan, akan melewati sumber air panah alami, di jalur ini lebih landai, namun 1 km setelah itu ada namanyanya tebing cengen, disamping terjal, lincin jalurnya.

daerah ini bervegetasi hutan hujan tropis, jika anda pengamat satwa liar, di sekitar tebing cengeng ini sering ini terlihat siamang sedang bermain. berikutnya berlanjut melewati  punggungann hutan yang dilengkapi kemiringan tidak terlali ekstrem selama 20 jam. 

Jika sudah tiba di area kubah Bukit Kaba, Anda bisa menghela nafas panjang, meregangkan tubuh sejenak dan meluruskan kaki yang begitu letih. Dari situ, bersiaplah melalui 307 anak tangga untuk mencapai kawah dan puncak Bukit Kaba. Anda yang melewati jalur aspal pun harus menghadapi anak tangga tersebut setelah menaiki ojek selama 30 menit.

Dua puluh menit menapaki tangga akan terbayar setelah Anda melihat tiga buah kawah pada puncak Bukit Kaba. Asap yang mengepul dari dua kawah menandakan bahwa gunung ini masih aktif, satu kawah lain yang sudah mati tidak lagi mengeluarkan asap. Pagar-pagar yang bertengger di bibir kawah dibuat dengan maksud menjaga pengunjung agar tidak terjerembab ke dalam kawah.

Apabila Anda melihat buah-buahan atau bahkan sesajen di puncak kawah, ini merupakan pertanda bahwa Bukit Kaba masih dipercaya masyarakat  sebagai tempat menghaturkan doa. Mereka meminta banyak hal, mulai dari keselamatan hingga kesembuhan dari berbagai penyakit.
Bukit Kaba dari Sisi Selatan

Jangan ragu untuk mendaki ke Bukit Kaba walaupun Anda belum mengetahui banyak tentang informasinya. Ada Pokdarwis yang beranggotakan pria-pria Desa Sumber Urip, mereka siap membantu pendaki mengelola transportasi hingga konsumsi. Desa Sumber Urip dahulu menjadi kawasan transmigrasi bagi orang jawa, jadi wajar saja jika Anda akan menemukan banyak penduduk yang berbahasa Jawa di sini.

Mari Berpetualang

Puaskan hasrat hati berpetualang dengan melakukan petualangan ke banyak pelosok nusantara negeri ini. Pilihan dari menjelajahi hutang dengan trekking, hiking, bird watching, hingga bertemu satwa liar seperti siamang, gajah bermain di alam liar, menatap pesona bunga rafflesia atau menengok Matahari di puncak-puncak bukit barisan. 

Tak akan ada akhir dalam petualangan alam liar yang Anda bisa dapatkan di negeri nusantara ini. Mulailah jelajahi, Ayo berpetualang di nusantara Indonesia dan rasakan keajaiban alam yang megah dan tidak akan pernah Anda lupakan!

Rafflesia arnoldi @tabapenajung bengkulu foto siamangrimba@gmail.com

Mari Berpetualang

Puaskan hasrat hati berpetualang dengan melakukan petualangan ke banyak pelosok nusantara negeri ini. Pilihan dari menjelajahi hutang dengan trekking, hiking, bird watching, hingga bertemu satwa liar seperti siamang, gajah bermain di alam liar, menatap pesona bunga rafflesia atau menengok Matahari di puncak-puncak bukit barisan. 

Tak akan ada akhir dalam petualangan alam liar yang Anda bisa dapatkan di negeri nusantara ini. Mulailah jelajahi, Ayo berpetualang di nusantara Indonesia dan rasakan keajaiban alam yang megah dan tidak akan pernah Anda lupakan!

Rafflesia arnoldi @tabapenajung bengkulu foto siamangrimba@gmail.com

Selasa, 15 Juli 2014

KAMPALA ENGGANO EXPEDITION 2013


KEE(Kampala Enggano expedition)2013          KEE 2013 Merupakan suatu kegiatan Expedisi-ilmiah yang dilakukan oleh KAMPALA FP UNIB. kegiatan ini dilakukan di pulau Enggano merupakan Pulau Terdepan di Barat Sumatera. kegiatan ini mengangkat tiga aktivitas antaralain : Penelitian tutupan terumbu karang (Penelitian) Life-in dan mengenal aktifitas keseharian masyarakat antara ekonomi, sosial, dan budaya (pengabdian pada masyarakat), dan Pendidikan dan pelatihan bagi siswa sekolah dasar dan menengah di Desa Kahyapu Pulau Enggano (belajar-mengajar)
Pulau dua
Pulau dua secara administratif terletak di desa Kahyapu, pulau dua merupakan pulau terbesar diantara ketiga pulau tujuan riset terumbu karang, pulau dua memiliki jarak tempuh sekitar 15 menit dari pelabuhan desa Kahyapu. Pulau dua tidak memiliki penghuni yang tetap, karena pulau ini merupakan pulau yang dianggap cukup “mistis” diberbagai kalangan di masyarakat pulau Enggano. Pulau dua memiliki gugusan terumbu karang yang cukup luas mulai dari komunitas padang lamun hingga tubir pulau.
tutupan terumbu pulau dua kee2013
Tim Riset KEE 2013 melakukan penyelaman pada kedalaman 5 meter. Tim menemukan berbagai jenis terumbu karang yang berhasil diidentifikasi secara life form (bentuk pertumbuhan) antara lain : Arcopora Branching, Arcopora Digitate, Arcopora Encrusting, Arcopora Submassive, Acropora Tabulate, Non Arcopora Branching, Non Arcopra Encrusting, Non Arcopora Foliose, Non Arcopora Heliopora, Non Arcopora Massive, dan Non Arcopora Millepora. keberagaman  life form terumbu karang yang cukup tinggi ditunjukan dengan adanya sebelas bentuk pertumbuhan terumbu karang dari 13 total bentuk pertumbuhan terumbu karang. Keberagaman terumbu karang yang cukup tinggi mengidentifikasikan bahwa perairan dan ekosistem terumbu karang pulau dua bisa di kategaorikan baik, selain itu data yang dihimpunan dari tim riset KEE 2013 yang telah mengelolah hasil tutupan terumbu karang hidup pulau dua didapat tutupan karangnya 54% dari total panjang transek 30 meter (15 meter per stasiun dari dua stasiun penelitian) yang dikatagorikan “Bagus” (Berdasarkan SK Menteri LH 04/2001).
Pulau Merbau
Seperti halnya pulau dua pulau merbau juga terletak di desa teritorial Desa kahyapu. Pulau merbau juga tidak memiliki penghuni yang tetap, hal tersebut dikarenakan luasan pulau merbau yang cukup kecil dan kepadatan vegatasi yang besar serta luas pantai yang relatif lebih kecil.  pulau Merbau memiliki tutupan ekosistem terumbu karang yang lebih luas dari komunitas padang lamunnya. Untuk keberagaman jenis terumbu karang dengan bentuk pertumbuhannya didapat 12 jenis bentuk pertumbuhan antara lain ; Arcopora Branching, Arcopora Digitate, Arcopora Encrusting, Arcopora Submassive, Acropora Tabulate, Non Arcopora Branching, Non Arcopora Encrusting, Non Arcopora Foliose, Non Arcopora Heliopora, Non Arcopora Massive, Non Arcopora Millepora. dan Non Acopora Mushroom. Keberagaman terumbu karang yang tinggi mengidentifikasikan bahwa perairan dan ekosistem terumbu karang pulau Merbau bisa di kategaorikan baik. Persentase tutupan terumbu karang hidup mencapai 48% yang katagorikan “Bagus” (Berdasarkan SK Menteri LH 04/2001).
Pulau Bangkai
Seperti halnya pulau Dua dan pulau Merbau, pulau Bangkai juga terletak di desa teritorial Desa Kahyapu. Pulau Bangkai juga tidak memiliki penghuni yang tetap. Pulau Bangkai merupakan pulau terkecil dari ketiga lokasi target penelitian terumbu karang pulau Enggano. Pulau Bangkai memiliki sejarah dan cerita masyarakat yang cukup unik, pulau bangkai merupakan pulau pembuangan untuk masyarakat enggano yang menderita berbagai penyakit yang cukup aneh dimasa itu seperti penyakit kusta dan sebagainya. Dari cerita tersebut sebagian masyarakat Pulau Enggano masih menganggap pulau Bangkai merupakan pulau yang dilarang untuk didatangi langsung. Untuk keberagaman jenis terumbu karang dengan bentuk pertumbuhannya didapat 6 jenis bentuk pertumbuhan antara lain ; Arcopora Branching, Arcopora Digitate, Arcopora Encrusting, Non Arcopora Branching, Non Arcopora Encrusting,  dan Non Acopora Mushroom. Keberagaman terumbu karang pulau Bangkai sangatlah kecil hal tersebut juga didukung oleh presentasi tutupan karang hidup yang hanya sebesar 28% yang menurut SK Menteri LH 04/2001 ekosistem Terumbu Karang pulau dua dikatagorikan Sedang.
Dari hasil penelitian tim riset KEE 2013 ditemukan banyak patahan-patahan terumbu karang yang dilewati garis transek. Dari pengamatan tim riset KEE 2013 diprediksi bahwa kerusakan terumbu karang telah lama terjadi, kerusakan terumbu karang tersebut juga diprediksi akibat kerusakan secara alami dengan adanya gempa tahun 2000 ditunjukan dengan patahan yang hampir sama panjang dan merata serta kerusakan non alami akibat penyalah gunaan alat tangkap seperti Trawl atau pukat harimau.Dari hasil wawancara dengan masyarakat Pulau Enggano, diketahui bahwa pulau tersebut memang destinasi bagi nelayan Pulau Enggano karena keberadaan ikan Ekonomis Konsumsinya yang cukup berlimpah life-in tim kee di pulau engganodan mudah untuk ditangkap. Sehingga mengindentifikasikan bahwa kerusakan ekosistem terumbu karang pulau Bangkai memang diakibatkan penyalahgunaan alat tangkap ikan (non-alami).
Life-in dan mengenal aktifitas keseharian masyarakat antara ekonomi, sosial, dan budaya
Aktifitas masyarakat Pulau Enggano sudah sepertiaktifitas Sosial-masyarakat Perdesaan pada umumnya dimana antar masyarakat bersatu sebagai suatu keluarga besar desa yang dipimpin oleh kepala desa dengan kepala suku sebagai ketua adat yang berkoordinasi untuk membuat peraturan desa (Perdes) sehingga kebudayaan dan kebiasaan masyarakat asli enggano tetap terjaga.
Pendidikan dan pelatihan bagi siswa sekolah dasar dan menengah di Desa Kahyapu Pulau Enggano edukasi pulau enggano kee2013
Pada tahap pendidikan dilakukan tahap penelitian dengan cara presentasi visual, Interactive Discussion, Stimulating Games, Field Observation, student’s creativity and Analysis. Dimana anak-anak diajak untuk belajar sambil bermain dengan diskusi dua-arah antara pemateri dan audien, setelah itu anak-anak langsung diajak melihat kelapangan hasil materi yang telah diberikan dilanjutkan dengan menuangkan hasil materi diruangan dan dilapangan dalam bentuk karya nyata berupa gambar setelah itu anak-anak diajak berikrar untuk menjaga lingkungan khususnya lingkungan laut Pulau Enggano sejak dini.

Secara garis besar pulau Enggano memiliki Potensi bawah laut yang sangat luarbiasa namun tidak didukung dengan pengetahuan yang cukup baik dari masyarakat tentang potensi daerah mereka sehingga diperlukan pendidikan tentang potensi dan sikap untuk menjaga ekosistemnya sejak usia dini sehingga kelestarian tersebut tetap terjaga. Selain itu tim KEE2013 merekomendasikan pulau Dua dan pulau Merbau untuk dijadikan spot penyelaman terumbu karang serta pulau Bangkai untuk direhabilitasi.

Diharapkan dari kegiatan ekspedisi ini dapat memotivasi mahasiswa dengan segala keterbatasan dapat berguna untuk mencapai Impian Bersama masyarakat Indonesia.(redscraftarmy2012) 
“Tumbuh Bukan Untuk Dirusak Biarkan Mekar Harum Semerbak”
Sumber : KAMPALA FP UNIB

Rabu, 01 Januari 2014

Expedisi Pelosok PALASOSTIK UNIB : MENJANGKAU YANG TAK TERJANGKAU

MENJANGKAU YANG TAK TERJANGKAU

spanduk xpdc
TELAPAK (1/12)  Mendengar kata pelosok, terbayang sesuatu yang jauh dari pusat kota dan sulit terjangkau pembangunan. Data di Badan Pemberdayaan Pemerintah dan Masyarakat Desa (BPPMD) Provinsi, tercatat ada 1.356 desa se-Provinsi Bengkulu. Sebanyak 670 desa diantaranya, masuk ke dalam kategori pelosok.
Berangkat dari visi misi dan kajian ilmu, organisasi Pencinta Alam Sosial Politik (Palasostik) yang diketuai Jhoni Anggariksa mengimplementasikan dalam program kerja bernama Ekspedisi Pelosok.
Ekspedisi Pelosok dikomandoi Anggota Biasa (AB) Palasostik Yovy Saputra. Kegiatan berlangsung 1-7 Desember 2014. Mahasiswa Administrasi Negara itu mengungkapkan,  persiapan ekspedisi sudah berlangsung selama tiga bulan. Ada beberapa desa yang akan menjadi tujuan tim Ekspedisi Pelosok.
“Desa pertama adalah Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Berlapis Kabupaten Lebong. Desa terpencil ini berada di wilayah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS),” terang Yovie saat ditemui wartawan Buletin TELAPAK.
Menjangkau Desa Sungai Lisai, harus berjalan kaki. Sarana transportasi belum ada, karena jalurnya hanya jalan setapak. Waktu tempuhnya berkisar 4-6 jam. Bagi yang ingin ke sana harus menyeberangi dua sungai yang cukup besar.
Di Desa Sungai Lisai, tim ekspedisi akan melakukan aktivitas penelitian sosial masyarakat, adat, budaya dan kualitas pendidikan. Didukung tim multimedia TELAPAK, juga akan ada pembuatan dokumenter, foto dan pengumpulan bahan tulisan yang akan dimuat dalam buletin.
“Targetnya hasil dari Ekspedisi Pelosok ini akan kami buat dalam bentuk seminar nasional, film dokumenter dan penerbitan buku,” kata Yovie.
Desa Sungai Lisai memiliki lahan garapan seluas 100 hektare. Penduduknya ada 100 Kepala Keluarga (KK). Desa yang mayoritas warganya merupakan suku Madras Jambi ini mengandalkan mata pencaharian dari hasil pertanian (padi, nila, kopi dan kayu manis), mengelola hasil hutan dan berburu.  
Di desa ini baru ada Sekolah Dasar (SD) dengan jumlah murid 100 orang. Untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), belum ada.
Ketua Umum Palasostik Jhony Anggariksa menjelaskan, kajianEkspedisi Pelosok ini dilakukan supaya pemerintah sadar akan pengembangan manusia di pinggiran hutan. Terutama yang masih masuk katagori terpencil.
“Kami berharap dengan adanya informasi-informasi baru seputar kehidupan masyarakat di desa-desa terpencil, bisa membuka pikiran pemerintah, masyarakat kota, instansi bersangkutan dan para wakil rakyat,” ujar Jhoni.(TP)
Sumber : Blogger PALASOSTIK UNIB

Jumat, 13 Desember 2013

POTENSI WISATA ARUNG JERAM YANG BELUM DIKELOLA


Tim Palasostik melakukan survei pengarungan start di Desa Air Tenam, Sungai Air Manna.YUNIKE KAROLINA/PLSTK


Tim Palasostik melakukan survei pengarungan start di Desa Air Tenam, Sungai Air Manna.YUNIKE KAROLINA/PLSTK
Desa Air Tenam Kecamata Ulu Manna menjadi desa perbatasan Provinsi Bengkulu-Sumatera Selatan. Berlokasi di jalan lintas, membuat desa ini tidak sulit dijangkau. Hanya memerlukan waktu sekitar 40 menit dari Kota Manna. Belum lagi potensi wisata petualangan alam bebas menjadi daya tarik sendiri. Sayangnya, potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah setempat. Simak laporannya?
Yunike Karolina, Ulu Manna
Bukan cerita baru lagi Sungai Air Manna bisa dijadikan lokasi arung jeram bagi pencinta rafting atau Olahraga Arus Deras (Orad). Rute arung jeram dimulai start di pekan Desa Air Tenam dan berakhir di Desa Batu Aji tak jauh dari Air Terjun Geluguran. Rute tersebut memakan waktu pengarungan 1,5- 3 jam tergantung metode pengarungan yang digunakan.
Wisatawan yang mencoba jalur Sungai Air Manna ini bukan hanya berasal dari Provinsi Bengkulu. Bahkan ada yang berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel), Yogyakarta dan Jakarta.

Sayangnya, wisata arung jeram atau orad ini belum mendapat perhatian serius dari Pemda BS untuk dikelola seperti diungkapkan Kepala Desa Air Tenam Fadli. Menurut Fadil, tak jauh dari Desa Air Tenam tepatnya di daerah Tanjung Sakti yang masuk Kabupaten Lahat, Sumsel, jalur pengarungan di Sungai Air Manna sudah ada pengelolanya dengan penawaran fasilitas untuk pengarungan.

“Untuk di BS sendiri, meskipun jalur pengarungan itu masih sama yaitu Sungai Air Manna, namun belum dikelola secara maksimal. Sedangkan untuk fasilitas, pemda baru memiliki 1 set perahu karet,” ujar Fadli.

Lanjut Fadli, selain potensi wisata arung jeram yang belum dikelola ada juga air terjun tiga tingkat yang menempuh jarak 1 jam perjalanan dari Desa Air Tenam. Kemudian ada juga goa batu di bukit batu yang jika dikelola ketiga-tiganya bisa ditawarkan sebagai paket wisata petualangan yang ada di Kabupaten BS.

“Itu harapan kita untuk Pemda BS agar mau mengelola tiga potensi wisata alam yang ada di desa kita. Karena memang desa kita ini sudah sering didatangi orang-orang yang mau mencoba jeram di Sungai Air Manna. Jika ini dikelola tentunya bukan hanya akan menjadi PAD bagi daerah tapi juga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan warga,” kata Fadli.(**)

Selasa, 10 Desember 2013

Lubuk Resam, Lokasi Menantang untuk Wisata Petualangan


Selasa, 10 Desember 2013 | 13:12 WIB

KOMPAS.COM/FIRMANSYAH

Hamparan sawah yang memanjakan mata.


MENGUNJUNGI obyek wisata dengan fasilitas mewah, sentuhan modern, tentu biasa dinikmati pengunjung tinggal tekan tombol maka pelayanan super profesional dapat dirasakan adalah hal yang sudah tak asing. Namun bagaimana jika berwisata ke tempat yang menantang dengan sentuhan alam yang masih asri, mendengar kicauan burung, air yang mengalir jernih, serta udara yang masih segar dan ramahnya penduduk pedesaan menyapa tentu kenikmatan tersendiri.

Tak mudah untuk mendapatkan kenikmatan berwisata model ini. Untuk mendapatkannya wisatawan harus menyiapkan tidak saja manajemen keuangan yang tertata tetapi kesiapan fisik dan mental.

Tak diragukan lagi model wisata petualangan alam bebas bisa Anda dapatkan di Desa Lubuk Resam, Kecamatan Puguk, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Berwisata ke desa ini Anda akan mendapatkan lima bonus kenikmatan yang memanjakan. Pertama, alam pedesaan yang asri. Kedua, pemandian sumber air panas. Ketiga, suasana hutan belantara. Keempat, air terjun dengan ketinggian 200 meter. Kelima, beberapa gua alam yang mempesona.

Menuju desa ini sangatlah mudah, setidaknya membutuhkan waktu 2,5 jam dari Bandar Udara Fatmawati Bengkulu, 1 jam dari Kota Bengkulu menuju Kabupaten Seluma dengan ibu kota Tais, serta 1,5 jam dari Tais ke Desa Lubuk Resam menggunakan moda transportasi motor atau mobil.

Suasana pedesaan begitu terasa ketika kita tiba di lokasi. Penduduk yang ramah, sungai jernih membelah desa dengan satu jembatan menjadi pemandangan tersendiri ketika pagi hari saat kabut masih tebal menyelimuti desa. Dari desa inilah petualangan dimulai. Penduduk desa dengan ramah akan menawarkan penginapan di rumah-rumah mereka yang sederhana dan bersih itu. Tidak ada tarif khusus yang diberikan warga bagi pengunjung. Bagi mereka, tamu yang datang ke desa adalah kebanggaan dan kehormatan tersendiri.
KOMPAS.COM/FIRMANSYAHMulut Goa Agung di Desa Lubuk Resam, Kecamatan Puguk, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.
Setelah berkemas, pada saat fajar menyingsing perjalanan dimulai. Target utama adalah Goa Agung, sebuah goa dengan panjang ratusan meter di dalam Hutan Lindung Bukit Sanggul. Perjalanan memakan waktu tidak kurang dari 2 jam berjalan kaki. Tetapi tunggu dulu, keletihan berjalan akan terobati dengan beberapa suguhan keindahan alam yang akan kita temui sepanjang lintasan.

Baru saja ke luar dari desa menuju kawasan hutan perjalanan sekitar 15 menit kita akan disuguhi oleh sumber air panas. Bolehlah kiranya jika Anda berniat hendak berendam beberapa saat menghangatkan badan dengan sumber air belerang yang mengalir deras menuju sungai yang jernih.

Puas bermain dengan air panas maka jalur perkebunan dan persawahan masyarakat terlebih dahulu akan kita lewati. Ada banyak tanaman kita jumpai seperti kebun terong, cabai, kacang panjang, hamparan sawah dan umbut. Ini merupakan tanaman warga setempat. Jika kebetulan ada si pemiliknya maka mereka pasti akan menawarkan kepada kita yang melintas untuk mengambil hasil kebun mereka dan itu gratis.

Usai melewati perkebunan maka hutan lindung akan menyambut kita. Pepohonan berumur puluhan tahun menjulang layaknya penyangga langit agar tidak runtuh, bunyi kicau burung hutan, siamang, gemercik air menghapus lelah karena berjalan. Jika beruntung selama perjalanan akan akan dijumpai kawanan kambing hutan, rusa dan harimau sumatera. Tak sedikit warga desa setempat yang bersedia menemani sebagai penunjuk jalan.

Tidak kurang dari 1,5 jam perjalanan membelah rimba dan sesekali menyeberangi sungai, rasa penat dan lelah mulai menggoda tetapi sekali lagi satu pemandangan luar biasa telah terbentang di depan mata pada jalur lintasan, yakni Air Terjun Melintang Kanan dengan ketinggian 200 meter tampak tinggi menjulang berwarna putih perak tertimpa cahaya mentari.

Obat lelah yang sungguh mujarab. Meski jarak kita masih berkisar 200 meter dari air terjun akan terasa embun mulai membasahi baju dan wajah. Terdapat pelataran cukup untuk membuka tenda berjumlah empat buah di bawah air terjun itu jika Anda berminat bermalam di lokasi itu. Urusan makan, Anda cukup membawa alat masak, beras dan bumbu karena ikan sangat melimpah di lintasan itu cukup dengan memancing saja.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAHJembatan, sebagai gerbang penyambut bagi pengunjung ke Desa Lubuk Resam, Kecamatan Puguk, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.
Pilihan untuk bermalam di lokasi ini tentu sangat menggoda selera bagaimana rasanya menikmati malam di sekitar hamparan air terjun yang bergemuruh tiada henti dalam belantara hutan. Namun, lokasi bermalam untuk tenda harus dipastikan jauh dari luapan sungai jika mendadak pasang.

Suasana malam di lokasi itu ternyata luar biasa indah. Hamparan langit membentang ditaburi bintang, bunyi hewan malam tiada henti diiringi gemuruh air terjun, menyatu dalam irama malam. Biasanya jika kita membawa pemandu warga setempat di mana mereka akan membawa jaring atau bubu (sejenis perangkap ikan). Lumayan sebagai menu tambahan membakar ikan di malam hari.

Pagi hari usai mengemas tenda dan peralatan, perjalanan dilanjutkan kembali menuju utara Goa Agung, dari air terjun dibutuhkan tidak kurang dari satu jam berjalan kaki. Lagi-lagi belantara rimba akan terus menyelimuti hingga bertemu dengan punggungan Bukit Sanggul tertinggi. Di punggungan bukit tertinggi inilah biasanya kawanan rusa dan kambing hutan akan semakin banyak Anda jumpai hingga bertemulah dengan mulut Goa Agung atau masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Goa Besar.

Goa Besar adalah sebuah goa alam yang terbentuk sejak ratusan tahun memiliki jalur horizontal sepanjang 500 meter. Tiba di mulut goa terdapat juga hamparan yang cukup untuk dihuni sekitar 30 orang. “Lokasi ini sering digunakan para penggiat alam terbuka untuk bermalam sebelum mereka masuk menyusuri goa,” kata Ketua Umum Pencinta Alam Sosial Politik (Palasostik), FISIP, Universitas Bengkulu, Andi Wiji Harianto, Minggu (8/12/2013).

Menelusuri goa juga merupakan pengalaman unik dan menegangkan dengan kedalaman puluhan meter di bawah perut bumi, tidak kurang dari satu jam waktu yang diperlukan untuk menyusuri seluk beluk goa itu. Rangkaian stalaktit dan stalakmit dari batuan kapur terukir indah di langit-langit dan lantai gua. Ada banyak bentuk unik tercipta, ada batuan berbentuk meja, wanita yang menyusui anak, kubah masjid dan beragam pemandangan lainnya.

Titik air menetes dari stalaktit akan terdengar merdu di hening dan gelapnya suasana dalam perut bumi. Biota gua biasanya akan ditemukan berupa kelabang dengan panjang mencapai 30 sentimeter namun pasif karena selalu berada di zona gelap. Berikutnya, jangkrik berwarna putih dan memiliki antena panjang sebagai alat navigasi, ikan dan belut yang berwarna transparan serta buta.

Ancaman Pabrik Semen

Keindahan dan keasrian alam kawasan tersebut sebenarnya tak luput dari ancaman eksploitasi pabrik semen karena kapur sebagai bahan utama pembuatan semen. Menurut Andi, pernah beberapa tahun yang lalu kawasan tersebut berencana membuka pengelolaan pabrik semen namun ditentang oleh warga desa termasuk ribuan warga Seluma.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAHAir terjun Melintang Kanan dengan ketinggian 200 meter
“Goa ini merupakan penyuplai air bagi ribuan petani yang berada di hilir sungai tepatnya Kota Tais, Ibu Kota Kabupaten Seluma. Jadi jika kawasan ini dirusak maka hancurlah kehidupan masyarakat di hilir sungai,” beber Andi.

Andi juga mengingatkan beberapa kode etik penelusuran goa kepada pengunjung. Pertama, jangan mengambil sesuatu kecuali foto. Kedua, jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak dan ketiga, jangan membunuh sesuatu kecuali waktu.

“Kawasan goa beserta isinya adalah wilayah sensitif, tidak sembarang pengunjung dapat masuk tanpa memahami kaedah dan kode etik penelusuran goa,” kata Andi.


Penulis:Kontributor Bengkulu, Firmansyah
Editor:I Made Asdhiana

Sumber : Kompas