Tampilkan postingan dengan label Bengkulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bengkulu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Kamis, 18/08/2016 - 09:22 WIB
Berita Utama / Curup Ekspress | koni - Bengkulu Ekspress

Merah Putih Raksasa Berkibar Di Bukit Kaba


Bendera raksasa yang dikibarkan para pendaki di puncak Bukit Kaba dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-71
CURUP, BE– Puncak Gunung Api Kaba atau yang lebih dikenal dengan Bukit Kaba kembali menjadi lokasi pengibaran bendera bagi para pendaki tak terkecuali pada HUT RI ke-71 kemarin. Bahkan tak tanggung-tanggung bendera raksasa dengan ukuran 17 X 8 meter dikibarkan para pendaki diketinggian 1.938 meter dari permukaan laut (mdpl).
Pengibaran bendera merah putih di puncak tertinggi Kabupaten Rejang Lebong tersebut dilaksanakan di lapangan Bukit Gajah atau yang sering disebut para pendaki dengan kawasan Padang Masyar. Sebelum pengibaran bendera raksasa diawali terlebih dahulu dengan upacara dikawasan Bukit Gajah yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB.
Setelah selesai upacara kemudian dilanjutkan dengan pengibaran bendera raksasa dengan cara, bendera tersebut dibawa sejumlah pendaki menuju Bukit Gajah. Setelah tiba dipuncak Bukit Gajah yang masih dalam kawasan Puncak Gunung Kaba, para pendaki langsung membentangkan bendera yang ukurannya menyamai luas lapangan futsal tersebut dengan diiringi lagu indonesia raya oleh semua pendaki yang hadir dalam kesempatan tersebut.
Terkait dengan pelaksanaan upacara di puncak Gunung Kaba, menurut salah satu panitia Rio, tema yang digunakan panitia dalam peringatan 17 Agustus tahun 2016 ini masih berkutik dengan masalah kebersihan di puncak bukit kaba. Karena menurutnya saat ini yang masih menjadi masalah besar diatas puncak bukit kaba adalah masalah sampah dari para pendaki sendiri.
“Saat ini animo para pendaki untuk mendaki bukit kaba ini sangat tinggi, namun hal tersebut menimbulkan masalah baru karena kesadaran pada pendaki terhadap sampah yang mereka bawa sendiri masih sangat rendah,” jelas Rio.
Oleh karena itu, Rio bersama panitia lainnya berharap agar para pendaki bisa menjaga kebersihan Bukit Kaba. Dimana salah satu langkah nyata yang bisa diwujudkan para pendaki untuk menjaga kebersihan yaitu minimla dengan membawa sampah mereka sendiri.
“Menjaga kebersihan gunung ini adalah tanggung jawab kita bersama. bila kita masih ingin menikmati keindahan gunung ini tentunya kita harus bisa menjaga kebersihannya,” ujar Rio.
Dalam kesempatan tersebut, Rio juga menjelaskan, untuk panitia upacara HUT RI di puncak Bukit Kaba tahun ini menjadi tanggungjawab para pendaki dari Kabupaten Rejang Lebong. Menurutnya panitia ini agar bergantia setiap tahunnya, dimana untuk tahun depan panitia kegiatan akan dipercayakan kepada para pendaki dari Kabupaten Kepahiang dan akan terus berganti setiap tahunnya.
Menurut Rio dengan bergantiannya panitia dalam peringatan HUT RI di puncak Bukit Kaba ini, diharapkan para pendaki Bukit Kaba bisa menjaga kekompakan dan tali silaturahmi serta memiliki rasa kebersamaan untuk menjaga kelestarian Bukit Kaba.
Disisi lain, untuk jumlah para pendaki pada HUT RI ke-71 ini diprediksi mencapai 3 ribu pendaki baik dari Provinsi Bengkulu maupun luar Provinsi Bengkulu. Menurut Pendi salah satu penjaga pos pendakian Bukit Kaba, para pendaki sudah mulai mendaki sejak tanggal 15 Agustus.
“Ini sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya, dimana setiap tanggal 17 Agustus selalu dipenuhi oleh para pendaki yang ingin mengikuti upacara di puncak,” singkat Pendi.(251)

Senin, 16 Mei 2016

Menguji Adrenalin di Jeram Sungai Ulu Manna

KOMPAS.com/FIRMANSYAH Peserta menjajal arung jeram di Sungai Ulu Manna, Bengkulu Selatan, Senin (16/5/2016).


BENGKULU, KOMPAS.com - Matahari sudah bergerak menuju ketinggian waktu, enam perahu karet dan puluhan dayung, pelampung, helm, dibagikan kepada puluhan tamu undangan dan pengurus Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Provinsi Bengkulu, Senin (16/5/2016).
Hari itu merupakan pelantikan pengurus FAJI Bengkulu masa bakti 2015 hingga 2019. Merupakan tawaran yang menantang dan rugi untuk ditolak saat KompasTravel diminta menjajal olahraga arung jeram di arus deras Sungai Ulu Manna, Desa Air Tenam, Kabupaten Bengkulu Selatan.
Prosesi pelantikan pengurus FAJI berlangsung tak lama namun berjalan khidmat di sebuah desa kecil, perbatasan Provinsi Bengkulu dengan Sumatera Selatan.
Suasana khas alam kuat terasa saat puluhan peserta arung jeram menuju sungai untuk memulai mengarungi Sungai Ulu Manna, panjang jalur ditempuh 10 kilometer. Bunyi deru arus terkesan ramah siang itu.
Sungai dengan lebar sekitar 20 hingga 25 meter tampak diapit belantara, dengan pohon berdiri cukup perkasa. Agak bergidik saat KompasTravel menempati satu perahu karet yang disediakan panitia.
Seorang instruktur dari komunitas jeram "Arus Sakti" mencoba menenangkan, menjelaskan bahwa prosedur keselamatan, terpenuhi, serta menyarankan menikmati pengarungan perdana itu. Helm sudah terpasang, pelampung cukup ketat memeluk tubuh, dan satu dayung kupegang.
KOMPAS.com/FIRMANSYAH Bupati Bengkulu Selatan, Dirwan Mahmud, didampingi Ketua FAJI Bengkulu, Patriana Sosialinda, sebelum mengarungi Sungai Ulu Manna, Senin (16/5/2016).
Cukup riuh suasana saat beberapa peserta lain menaiki perahu karet masing-masing. Pengarungan dimulai sekitar pukul 11.00 WIB. Adrenalin mulai terpacu saat perahu karet yang ditumpangi mulai mengarah pada satu jeram berukuran sedang. Kode-kode dari skipper atau river guide harus diperhatikan, kapan saat mendayung, dan kapan saat menghentikan dayung. Hempasan pertama, perahu karet berisikan lima pengarung terhempas masuk dan berputar di jeram tersebut. Teriakan takut dari peserta terdengar di telinga, air mulai membasahi tubuh dan menampar wajah.
Belum lepas kepanikan pada hempasan di jeram pertama, jeram kedua telah menunggu, kali ini berukuran lebih besar, perahu karet yang kami tumpangi terasa melipat, dua pendayung di depan terpental ke belakang, beruntung sigap, dan berpegangan pada tali di perahu karet.
Dua jeram mengerikan pada pengarungan perdana mampu dilalui, mencoba membuang kepanikan, suguhan pemandangan alam di sisi sungai, dan beberapa air terjun kecil cukup menjadi obat mujarab, seekor elang tampak terbang di atas para pengarung menambah kesan liar olahraga itu.
Aroma ketakutan pada olahraga alam bebas itu mendadak sirna, tak ada lagi teriakan ketakutan saat mengarungi jeram-jeram yang lebih menakutkan lainnya, beberapa peserta mulai beradaptasi dan mengeluarkan teriakan penuh optimisme.
Memasuki kelokan sungai, perahu yang kami tumpangi masuk pada cekungan sungai dengan sulur-sulur pohon menghadang, sementara jeram tampak dalam dan berputar. Hempasan cukup keras dan membanting perahu kami. Dua pendayung pada bagian depan terhempas ke luar perahu.
KOMPAS.com/FIRMANSYAH Pengurus FAJI Bengkulu dan FAJI pusat berpose usai mengarungi jeram Sungai Ulu Manna, Bengkulu, Senin (16/5/2016).
Drama penyelamatan berlangsung dalam hitungan menit, dua pendayung dapat kembali dinaikkan ke atas perahu karet. Beberapa perahu juga tampak terlihat terbalik. Enam pengarung tampak bergelantungan di perahu karet. Berkat kesigapan dan ketangkasan, perahu berhasil dibalikkan dan para pengarung dapat kembali menaiki perahu karet.
Pukul 14.30 WIB, pengarungan mencapai titik finish dengan lintasan sepanjang 10 kilometer. Tak ada satu pun peserta mengalami cedera.
Sebelumnya dalam pelantikan, Ketua Harian Pengurus Besar FAJI, Amalia Yunita menyebutkan, olahraga arung jeram Indonesia telah menorehkan banyak prestasi di nasional bahkan internasional.
Terdapat tiga elemen yang dilakukan FAJI. Pertama olahraga dan prestasi, kedua wisata dan ketiga konservasi.
Amalia juga mengucapkan selamat kepada Ketua FAJI Provinsi Bengkulu, Patriana Sosialinda yang baru saja dilantik. Patriana adalah Wakil Wali Kota Bengkulu. "Ini pertama kalinya Ketua FAJI daerah yang perempuan," ujar Amalia disambut tepuk tangan peserta pelantikan.
Sementara itu Bupati Bengkulu Selatan, Dirwan Mahmud, dalam pelantikan tersebut mengungkapkan kegembiraannya dipilihnya Sungai Ulu Manna, sebagai tempat pelantikan FAJI Bengkulu.
"Kami akan ikut membantu perkembangan olahraga arung jeram di daerah ini, bahkan dalam bentuk anggaran secepatnya, karena ini berpotensi menjadi pendapatan daerah," demikian Dirwan Mahmud.
KOMPAS.com/FIRMANSYAH Ketua Harian PB Faji, Amalia Yunita, melantik Ketua FAJI Bengkulu, Patriana Sosialinda, Senin (16/5/2016).
Cukup gampang menuju lokasi jeram Sungai Ulu Manna, dari Kota Bengkulu perjalanan dapat ditempuh menggunakan moda darat dengan perjalanan sekitar empat jam menuju ibu kota Kabupaten Bengkulu Selatan, Manna. Dari Kota Manna perjalanan darat dapat ditempuh sekitar 1 jam menuju Desa Air Tenam, Kecamatan Ulu Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan.
Ada banyak fasilitas hotel, restoran untuk mencicipi kuliner. Bahkan rumah penduduk juga dapat dijadikan semacam peristirahatan jika anda berminat menjajal jeram di Sungai Ulu Manna dengan grade dua hingga tiga pada olahraga arung jeram.
Penulis : Kontributor Bengkulu, Firmansyah
Editor : I Made Asdhiana

Kamis, 13 November 2014

Mengenal Gunung Kaba – Bengkulu



Kawah Mati Gunung Kaba foto Elang Hitam S2.9800291
Kawah Mati Gunung Kaba


KETERANGAN UMUM
Nama :Kaaba
Nama Kawah:

Terdapat 8 kawah di puncak, masing-masing a.l : (Gbr.1) Kaba Lama, Kaba Baru, Sumur letusan 1940 Kawah Baru, Vogelsang I, lubang letusan 1951 (Vogelsang II).

Lokasi
a.Geografi:3°31’0″ Lintang Selatan, dan 102°37’0″ Bujur Timur
b.Administrasi:Berada di wilayah Kecamatan Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Propinsi Bengkulu
Ketinggian:1952 m di atas permukaan laut
Kota Terdekat:Bengkulu
Tipe Gunungapi:Strato
Pos Pengamatan:Pos Pengamatan G. Kaba, Desa Sumber Urip, Kec. Sambirejo, Kab. Rejanglebong, Bengkulu. Geografis 3o 28′ 41,70″ LS dan 102o 38′ 41,90″ BT. Ketinggian 1182 m dpl

Gambar 1 Peta Topografi Kawah Gunung Kaba
Peta Topografi Puncak dan Kawah G. Kaba
Peta Topografi Puncak dan Kawah G. Kaba

Bukit Kaba (1937 mdpl)  merupakan gunung api kembar dengan Gunung Hitam, gunung biring gunung kelam yang telah padam. Pada Puncaknya terdapat tiga buah Kawah yang cukup indah untuk dinikmati. (terletak di Kecamatan Selupu Rejang berjarak sekitar 104 Km dari Ibukota Propinsi Bengkulu, atau sekitar 19 Km dari ibukota kabupaten Rejang Lebong. Persimpangan menuju Bukit Kaba (Ds. Sumber Urip) merupakan jalur lintas sumatera yang menghubungkan provinsi Bengkulu dengan Provinsi Sumatera Selatan dengan kota terdekat adalah Lubuk Linggau (Sumsel) dan Kota Curup (Bengkulu).    
Wilayah Bukit Kaba merupakan daerah yang subur penghasil buah dan sayur. Dari kejauhan, hamparan hijau dan warna-warni buah-buahan sangat memanjakan mata para wisatawan.

Two climbers on Gunung Kaba (unknown photographer, 1936) Courtesy TropenMuseum Archives. Two climbers on Gunung Kaba (unknown photographer, 1936) Courtesy
Potensi Bukit Kaba 
  • Nama Kawasan
  • Taman Wisata Bukit Kaba
  • Letak geografis
  • 102035’ 1020 45 BT dan 3030’ 30 37’ LU.
  • Administrasi
  • Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang,
  • Kecamatan Selupu Rejang Dan Kecamatan Sindang Kelingi Kabupaten Rejang Lebong.
  • Status wilayah
  • Berdasarkan SK.MenHut No.166/KPTS-II/1998 ditetapkan sebagai kawasan konservasi alam yang diperuntukkan penggunaannya sebagai taman wisata alam dengan luas 15.070 Ha.
  • Inventarisasi Sumberdaya Gunungapi
  • Adanya endapan belerang di dasar kawah utama G. Kaba membuat sebagian kecil masyarakat di sekitar gunungapi ini memanfaatkannya dengan cara menggali secara tradisional. Namun saat ini penggalian tersebut sudah tidak dilakukan lagi, mengingat volume cadangannya yang tidak memadai untuk di tambang dalam skala kecil sekalipun.

Rabu, 12 November 2014

Mari Berpetualang

Puaskan hasrat hati berpetualang dengan melakukan petualangan ke banyak pelosok nusantara negeri ini. Pilihan dari menjelajahi hutang dengan trekking, hiking, bird watching, hingga bertemu satwa liar seperti siamang, gajah bermain di alam liar, menatap pesona bunga rafflesia atau menengok Matahari di puncak-puncak bukit barisan. 

Tak akan ada akhir dalam petualangan alam liar yang Anda bisa dapatkan di negeri nusantara ini. Mulailah jelajahi, Ayo berpetualang di nusantara Indonesia dan rasakan keajaiban alam yang megah dan tidak akan pernah Anda lupakan!

Rafflesia arnoldi @tabapenajung bengkulu foto siamangrimba@gmail.com

Mari Berpetualang

Puaskan hasrat hati berpetualang dengan melakukan petualangan ke banyak pelosok nusantara negeri ini. Pilihan dari menjelajahi hutang dengan trekking, hiking, bird watching, hingga bertemu satwa liar seperti siamang, gajah bermain di alam liar, menatap pesona bunga rafflesia atau menengok Matahari di puncak-puncak bukit barisan. 

Tak akan ada akhir dalam petualangan alam liar yang Anda bisa dapatkan di negeri nusantara ini. Mulailah jelajahi, Ayo berpetualang di nusantara Indonesia dan rasakan keajaiban alam yang megah dan tidak akan pernah Anda lupakan!

Rafflesia arnoldi @tabapenajung bengkulu foto siamangrimba@gmail.com

Selasa, 10 Desember 2013

Lubuk Resam, Lokasi Menantang untuk Wisata Petualangan


Selasa, 10 Desember 2013 | 13:12 WIB

KOMPAS.COM/FIRMANSYAH

Hamparan sawah yang memanjakan mata.


MENGUNJUNGI obyek wisata dengan fasilitas mewah, sentuhan modern, tentu biasa dinikmati pengunjung tinggal tekan tombol maka pelayanan super profesional dapat dirasakan adalah hal yang sudah tak asing. Namun bagaimana jika berwisata ke tempat yang menantang dengan sentuhan alam yang masih asri, mendengar kicauan burung, air yang mengalir jernih, serta udara yang masih segar dan ramahnya penduduk pedesaan menyapa tentu kenikmatan tersendiri.

Tak mudah untuk mendapatkan kenikmatan berwisata model ini. Untuk mendapatkannya wisatawan harus menyiapkan tidak saja manajemen keuangan yang tertata tetapi kesiapan fisik dan mental.

Tak diragukan lagi model wisata petualangan alam bebas bisa Anda dapatkan di Desa Lubuk Resam, Kecamatan Puguk, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Berwisata ke desa ini Anda akan mendapatkan lima bonus kenikmatan yang memanjakan. Pertama, alam pedesaan yang asri. Kedua, pemandian sumber air panas. Ketiga, suasana hutan belantara. Keempat, air terjun dengan ketinggian 200 meter. Kelima, beberapa gua alam yang mempesona.

Menuju desa ini sangatlah mudah, setidaknya membutuhkan waktu 2,5 jam dari Bandar Udara Fatmawati Bengkulu, 1 jam dari Kota Bengkulu menuju Kabupaten Seluma dengan ibu kota Tais, serta 1,5 jam dari Tais ke Desa Lubuk Resam menggunakan moda transportasi motor atau mobil.

Suasana pedesaan begitu terasa ketika kita tiba di lokasi. Penduduk yang ramah, sungai jernih membelah desa dengan satu jembatan menjadi pemandangan tersendiri ketika pagi hari saat kabut masih tebal menyelimuti desa. Dari desa inilah petualangan dimulai. Penduduk desa dengan ramah akan menawarkan penginapan di rumah-rumah mereka yang sederhana dan bersih itu. Tidak ada tarif khusus yang diberikan warga bagi pengunjung. Bagi mereka, tamu yang datang ke desa adalah kebanggaan dan kehormatan tersendiri.
KOMPAS.COM/FIRMANSYAHMulut Goa Agung di Desa Lubuk Resam, Kecamatan Puguk, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.
Setelah berkemas, pada saat fajar menyingsing perjalanan dimulai. Target utama adalah Goa Agung, sebuah goa dengan panjang ratusan meter di dalam Hutan Lindung Bukit Sanggul. Perjalanan memakan waktu tidak kurang dari 2 jam berjalan kaki. Tetapi tunggu dulu, keletihan berjalan akan terobati dengan beberapa suguhan keindahan alam yang akan kita temui sepanjang lintasan.

Baru saja ke luar dari desa menuju kawasan hutan perjalanan sekitar 15 menit kita akan disuguhi oleh sumber air panas. Bolehlah kiranya jika Anda berniat hendak berendam beberapa saat menghangatkan badan dengan sumber air belerang yang mengalir deras menuju sungai yang jernih.

Puas bermain dengan air panas maka jalur perkebunan dan persawahan masyarakat terlebih dahulu akan kita lewati. Ada banyak tanaman kita jumpai seperti kebun terong, cabai, kacang panjang, hamparan sawah dan umbut. Ini merupakan tanaman warga setempat. Jika kebetulan ada si pemiliknya maka mereka pasti akan menawarkan kepada kita yang melintas untuk mengambil hasil kebun mereka dan itu gratis.

Usai melewati perkebunan maka hutan lindung akan menyambut kita. Pepohonan berumur puluhan tahun menjulang layaknya penyangga langit agar tidak runtuh, bunyi kicau burung hutan, siamang, gemercik air menghapus lelah karena berjalan. Jika beruntung selama perjalanan akan akan dijumpai kawanan kambing hutan, rusa dan harimau sumatera. Tak sedikit warga desa setempat yang bersedia menemani sebagai penunjuk jalan.

Tidak kurang dari 1,5 jam perjalanan membelah rimba dan sesekali menyeberangi sungai, rasa penat dan lelah mulai menggoda tetapi sekali lagi satu pemandangan luar biasa telah terbentang di depan mata pada jalur lintasan, yakni Air Terjun Melintang Kanan dengan ketinggian 200 meter tampak tinggi menjulang berwarna putih perak tertimpa cahaya mentari.

Obat lelah yang sungguh mujarab. Meski jarak kita masih berkisar 200 meter dari air terjun akan terasa embun mulai membasahi baju dan wajah. Terdapat pelataran cukup untuk membuka tenda berjumlah empat buah di bawah air terjun itu jika Anda berminat bermalam di lokasi itu. Urusan makan, Anda cukup membawa alat masak, beras dan bumbu karena ikan sangat melimpah di lintasan itu cukup dengan memancing saja.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAHJembatan, sebagai gerbang penyambut bagi pengunjung ke Desa Lubuk Resam, Kecamatan Puguk, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.
Pilihan untuk bermalam di lokasi ini tentu sangat menggoda selera bagaimana rasanya menikmati malam di sekitar hamparan air terjun yang bergemuruh tiada henti dalam belantara hutan. Namun, lokasi bermalam untuk tenda harus dipastikan jauh dari luapan sungai jika mendadak pasang.

Suasana malam di lokasi itu ternyata luar biasa indah. Hamparan langit membentang ditaburi bintang, bunyi hewan malam tiada henti diiringi gemuruh air terjun, menyatu dalam irama malam. Biasanya jika kita membawa pemandu warga setempat di mana mereka akan membawa jaring atau bubu (sejenis perangkap ikan). Lumayan sebagai menu tambahan membakar ikan di malam hari.

Pagi hari usai mengemas tenda dan peralatan, perjalanan dilanjutkan kembali menuju utara Goa Agung, dari air terjun dibutuhkan tidak kurang dari satu jam berjalan kaki. Lagi-lagi belantara rimba akan terus menyelimuti hingga bertemu dengan punggungan Bukit Sanggul tertinggi. Di punggungan bukit tertinggi inilah biasanya kawanan rusa dan kambing hutan akan semakin banyak Anda jumpai hingga bertemulah dengan mulut Goa Agung atau masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Goa Besar.

Goa Besar adalah sebuah goa alam yang terbentuk sejak ratusan tahun memiliki jalur horizontal sepanjang 500 meter. Tiba di mulut goa terdapat juga hamparan yang cukup untuk dihuni sekitar 30 orang. “Lokasi ini sering digunakan para penggiat alam terbuka untuk bermalam sebelum mereka masuk menyusuri goa,” kata Ketua Umum Pencinta Alam Sosial Politik (Palasostik), FISIP, Universitas Bengkulu, Andi Wiji Harianto, Minggu (8/12/2013).

Menelusuri goa juga merupakan pengalaman unik dan menegangkan dengan kedalaman puluhan meter di bawah perut bumi, tidak kurang dari satu jam waktu yang diperlukan untuk menyusuri seluk beluk goa itu. Rangkaian stalaktit dan stalakmit dari batuan kapur terukir indah di langit-langit dan lantai gua. Ada banyak bentuk unik tercipta, ada batuan berbentuk meja, wanita yang menyusui anak, kubah masjid dan beragam pemandangan lainnya.

Titik air menetes dari stalaktit akan terdengar merdu di hening dan gelapnya suasana dalam perut bumi. Biota gua biasanya akan ditemukan berupa kelabang dengan panjang mencapai 30 sentimeter namun pasif karena selalu berada di zona gelap. Berikutnya, jangkrik berwarna putih dan memiliki antena panjang sebagai alat navigasi, ikan dan belut yang berwarna transparan serta buta.

Ancaman Pabrik Semen

Keindahan dan keasrian alam kawasan tersebut sebenarnya tak luput dari ancaman eksploitasi pabrik semen karena kapur sebagai bahan utama pembuatan semen. Menurut Andi, pernah beberapa tahun yang lalu kawasan tersebut berencana membuka pengelolaan pabrik semen namun ditentang oleh warga desa termasuk ribuan warga Seluma.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAHAir terjun Melintang Kanan dengan ketinggian 200 meter
“Goa ini merupakan penyuplai air bagi ribuan petani yang berada di hilir sungai tepatnya Kota Tais, Ibu Kota Kabupaten Seluma. Jadi jika kawasan ini dirusak maka hancurlah kehidupan masyarakat di hilir sungai,” beber Andi.

Andi juga mengingatkan beberapa kode etik penelusuran goa kepada pengunjung. Pertama, jangan mengambil sesuatu kecuali foto. Kedua, jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak dan ketiga, jangan membunuh sesuatu kecuali waktu.

“Kawasan goa beserta isinya adalah wilayah sensitif, tidak sembarang pengunjung dapat masuk tanpa memahami kaedah dan kode etik penelusuran goa,” kata Andi.


Penulis:Kontributor Bengkulu, Firmansyah
Editor:I Made Asdhiana

Sumber : Kompas

Senin, 26 April 2010

BUKIT DAUN dan kisahku

oleh : Blogger Diantara Paku dan Resam



Ya' pertama kalinya melihat judul,pasti terbesit pikiran..hmmm bukit,ketinggian dibawah 1000 m dpl,ndak jauh,bisa ditempuh P-P dalam sehari,kurang menantang,tidak ada yang menarik..tapi maaf para pembaca..bagi saya Bukit Daun menorehkan kisah yang dalam dalam perjalanan saya sebagai pecinta gunung dan alamnya.deskripsi diatas jauh dari yang anda bayangkan..
Di Bukit daun itulah perjalanan terlama dalam sejarah saya mendaki gunung untuk menuju satu lokasi..lama dikarenakan didalam perjalanan;

Pertama mencari warga setempat/kuncen yang bersedia mengantar tapi tidak segera dapat,kedua medan yang berat dan (sepertinya) tidak pernah dilalui manusia,ketiga sempat nyasar sebentar di awal perjalanan,keempat saya cidera di hari kedua dan ditambah lagi dalam perjalanan turun),kelima masa pemulihan saya di desa selama 2 hari termasuk ritual kuncennya..





Sedikit profile tentang Bukit Daun

Ketinggian: 2467 m dpl
Desa terdekat Bermani Ulu Raya.
Start pendakian Kebun teh bermani ulu +-600 m dpl
lama tempuh estimasi jika normal tanpa halangan 2 hari p-p.
versi Adrian 3 hari 3 malam..
Beberapa fakta lain:

-Walaupun dinamakan bukit,tapi ketinggian bukit daun melebihi 1000 m dpl.
-Masuk dalam kabupaten rejang lebong dengan ibukota Curup.
-Salah satu gunung tertinggi di propinsi Bengkulu
-Salah satu gunung di deretan pegunungan bukit barisan wilayah bengkulu.
-Di kaki bukit daun,terdapat obyek wisata alam yang menarik untuk dikunjungi,telaga tujuh warna dan telaga gadang.yang sayangnya potensi ini belum tergarap dengan baik.
-Di sebelah..kurang lebih..km terdapat Bukit Kaba,di sebelah...terdapat bukit hulumayus dan bukit gedang hululai...disebelah..terdapat Danau Tes yang konon Sumanto pernah berencana datang untuk menantang naga penunggu danau tes.hehe

Untuk menuju Bukit Daun..
pertama kita menuju ke propinsi Bengkulu dulu pastinya..
Dari ibukota bengkulu menuju curup kurang lebih 80 km,dari Curup kemudian menuju ke desa bermani ulu raya kurang lebih 20 km..
Selain dari bengkulu untuk menuju Curup bisa ditempuh dari Lubuk linggau,Sumsel kurang lebih 60 km kemudian menuju desa yang sama.
dari desa tersebut kita menuju kebun teh terdekat.dari kebun teh dimulailah pendakian yang menantang....

Catatan (selanjutnya akan saya lengkapi,sekembali ke tanah air dan saya buka diary)
Bukit DAun,gunung pertama yang dituju dalam ekspedisi sumatra 2007..
team: Adrian,Kang Topa,Hambali a.k.a Gembel.
dan tentu warga bermani ulu raya yang ikut mengantar kami:
-Kak Heri,Kak Samsul,Kak....,dan atas seijin Kak Ridwan selaku sesepuh bukit daun..

Hari pertama

- Dari Lubuk linggau menuju Curup, dari Curup mencari desa terdekat berdasarkan peta.yakni desa Bermani ulu raya.sampai didesa hari mulai gelap,terdengar adzan magrib dan saya memutuskan berhenti di musholla terdekat untuk sholat.usai sholat maghrib kami ngobrol dengan warga yang sedang berada di musholla,dari percakapan itulah kami jadi tahu kalo warga yang tinggal di bermani ulu raya kebanyakan adalah transmigran dari pulau jawa,dan berlangsunglah percakapan yang akrab..kemudian salah seorang sesepuh warga trans mengajak kami singgah dirumah beliau dan akhirnya kami menginap disana selama 3 hari..

Hari Kedua

-Pagi dah menyapa dan kita semua masih belum beranjak,wajar masih ingin menikmati segarnya udara pegunungan...
di hari kedua,tujuan pertama mencari guide atau penduduk yang biasa ke gunung kemudian silaturahmi ke pak kades untuk melapor diri..sampai malam tiba,kami belum menemukan orang yang biasa naik ke bukit daun.

Hari Ketiga

-Mulai ada titik cerah,akhirnya bertemu dengan kak Ridwan..beliau adalah orang asli rejang dan kuncen bukit daun. dari kak Ridwan ada beberapa orang yang bersedia mengantar. dan berangkatlah kita pada siang hari setelah pkl 13.00 siang..
start dari perkebunan teh diatas desa bermani ulu raya.start awal pendakian +- 700 m dpl. perjalanan awal lebih banyak menanjaknya daripada bonus track.dan jalur harus dibuka terlebih dahulu dengan parang,karena melewati belukar dan bekas perkebunan..betul2 banyak menguras tenaga di hari pertama ini. dan kami memutuskan ngecamp disekitar ketinggian +-1000 m dpl. vegetasi masih campuran antara bekas perkebunan-perdu menuju hutan gunung bagian bawah.

Hari keempat
Pagi jam 10.00 memulai lagi perjalanan setelah mengisi bensin perut,mie dan nasi...(-:
kemudian memasuki hutan pegunungan bagian bawah(Lower montane forest)setelah 2 jam jalan dengan ciri2 batang pohon sudah ada lapisan lumut dan kelembapan tinggi,beberapa anggrek mulai menampakan diri,tapi untuk Nepenthes tidak terlihat sama sekali pada ketinggian 1200 m dpl.di ketinggian ini kami sempat hilang orientasi menuju ke arah gunung kepala monyet tapi berkat kecermatan mr.gembel menlihat ulang gps dan insting kak heri akhirnya bisa teratasi..dan pada hari ini penambahan ketinggian tidak terlalu banyak dan kami ngecamp di ketinggian +-1400 m dpl.karena tanpa disadari hari sudah mulai gelap. dihari keempat ini kita mulai kehabisan air karena dirasa kesempatan untuk mendapatkan sumber air diperjalanan selanjutnya minim. maka malam itu juga kami mulai menderes rotan untuk dikumpulkan airnya dalam botol air mineral satu liter.
kemudian kami mulai membikin api unggun. untuk megusir nyamuk gunung yang ganas.

Hari keempat tengah malam
satu persatu mulai mengantuk,tinggal saya dan 2 orang masih terjaga..bukit daun sudah nampak karena langit malam yang cerah...entah karena saya berhalusinasi atau "efek gema"dari kampung di kaki gunung. pelan2 saya dengar suara gamelan dari arah bukit daun..awalnya pelan,lama kelama2an semakin jelas..
uniknya nada gamelan tidak seperti pada umumnya.ada nada tersendiri..sulit untuk dideskripsikan disini. dan semenjak saya dengar suara tersebut saya putuskan diam tidak berkomentar,pura2 tidak dengar sambil menikmati pemandangan di langit..
dan akhirnya saya pun diserang kantuk juga dan segera menempatkan diri di tenda,mencari posisi wuenak.
saya merasa tidur nyaman sekali..serasa tidur berjam2.dan kisah lain berlanjut..
ditengah tidur saya bermimpi bertemu gadis ehm cewek sexy dengan pakaian baju tradisional (seperti kemben)di suatu tempat seperti rumah tua. si cewek menarik2 tangan saya sembari menunjuk ke bukit daun dan tidak berkata sepatah pun dengan ekpresi beku..segera saya bangun dengan kaget..jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.

Hari ke lima

Pagi sekitar jam 6,Saya lihat kak Heri dan Samsul sudah mulai berkemas..mendadak kak Samsul mendekati saya dan bertanya "Saya lihat semalam ada cahaya masuk ditenda,saya yakin Adrian pasti bermimpi atau mungkin teman yang lain satu tenda juga bermimpi?.karena itu semacam pertanda,mimpi apa semalam?"
saya ceritakan mimpi saya dan kata Kak Samsul. "ya itu pertanda bagus,boleh melanjutkan perjalanan,klo mimpinya buruk hari ini juga kita harus turun"
hmmm..kadang ada misteri yang memang belum terjelaskan dalam perjalanan ini gumamku.dari gamelan dan cewek sexy..

Setelah semua rombongan berkemas dan perjalanan dilanjutkan kembali.
Medan semakin berat,karena jalur sepertinya tidak pernah dilewati manusia sebelumnya.kadang tiap jalan kami terpaksa berhenti kadang bergantian untuk membabat rotan/semak yang menghalangi jalan..dan untuk menyemangati, saya atau teman lain berteriak "Hajar JAY!!"

Kira2 perjalanan kaki 3 jam dari 'pos' sebelumnya, kak Heri menemukan sumber air yang terdapat di 'jurang' yg curam yg membelah jalur pendakian. dengan perasaan kemenangan kak Heri mulai turun mengambil air yg terdapat didasar jurang yg krg lebih 25 meter dalamnya.sumber aair tidak mengalir karena musim kemarau,namun beberapa jerigan dan botol aqua dapat terpenuhi akhirnya. dan bisa ditebak kualitas airnya yang keruh sehingga kami saring lagi pakai kain..
puas mengisi supply air,kami lanjut perjalanan, medan benar tidak ada bonus sama sekali..2 jam perjalanan berikutnya kaki saya yang kanan mendadak kram..dan saya terpelanting karena salah melangkah ketika sedang menahan sakit..jadilah perjalanan berikutnya menjadi lamban dan lamban..

Kemudian siang hari sekitar jam 2,altimeter menunjukkan ketinggian 1900 m dpl,yang artinya tinggal kurang lebih 500 meter lagi sampai dipuncak..
diluar dugaaan ketika saya sedang menahan sakit di kaki kanan dengan jalan tertatih2, saya melihat gerombolan rossete N.pectinata untuk pertama kalinya. ya! penampakan Nepenthes pertama kalinya di Bukit daun setelah menempuh perjalanan beberapa hari..!!

N.pectinata di bukit daun,bentuk kantung bawahnya bulat telur-gemuk,hampir menyerupai N.belii tapi dengan ukuran kantung lebih besar +-15 cm..
segera rasa sakit yg sudah menggelayut di kaki kanan sirna seketika(utk sementara hehe,this is just begining of another suffering)...
saya mencoba berinteraksi dengan segerombolan Nepenthes itu,saya seperti mendengarkan kisah jutaan tahun yang lalu tentang 'diaspora' jenis ini dari gunung lain yang menyebabkan mereka terdampar dan beradaptasi disini..
kemudian saya menyiapkan kamera,begitu juga dengan Gembel dengan kamera barunya pada waktu itu..memfoto dari berbagai sudut kemudian saya meminta pak Tofa untuk menyiapkan peralatan untuk mengkoleksi spesimen..sedangkan para penunjuk jalan,Kak Heri,Samsul memilih beristirahat sembari mencari jalur menuju puncak.

Beberapa bagian dari Nepenthes selanjutnya diambil untuk spesimen,yang selanjutnya di kirim Ke Herbarium Bogoriense dan ANDA..
selesai mengkoleksi spesimen,saya mulai mengamati sekeliling,mencatat tentang kondisi vegetasi dan melihat ke dahan2 pohon yang tinggi dengan harapan ada jenis lain selain N.pectinata disini..

Dari tempat saya berdiri keliatan dari pohon yg tinggi nampak beberapa individu N.spathulata menempel di dahan.
adalah tipikal N.spathulata dalam kaitan populasinya di pohon,lebih terlihat jarang dan terlihat sepert individual plant, tersebar, tidak seperti N.adrianii yang membentuk gerombolan tanaman,hampir mendominasi/memenuhi dahan pohon hingga penuh.

Dirasa tidak memungkinkan untuk mengambil specimen N.spathulata di pohon,saya melnjutkan perjalanan,dan selama perjalanan menuju puncak dikanan kiri terdapat 'lembaran' karpet N.pectinata.
Keberuntungan saya pada hari itu karena saya menemukan biji dari N.pectinata, merupakan kesempatan yang langka menjumpai biji atau bunga dari N.pectinata dialam karena N.pectinata lebih aktif memperbanyak diri secara vegetatif dibanding generatif. yang selanjutnya biji yang saya koleksi ini saya sebarkan ke anggota KTKI,untuk disemai..(sampe sekarang belum terdengar laporannya,bagaimana perkembangan bijinya..hehehe)
sumber :  Blogger Diantara Paku dan Resam


BUKIT DAUN dan kisahku

oleh : Blogger Diantara Paku dan Resam



Ya' pertama kalinya melihat judul,pasti terbesit pikiran..hmmm bukit,ketinggian dibawah 1000 m dpl,ndak jauh,bisa ditempuh P-P dalam sehari,kurang menantang,tidak ada yang menarik..tapi maaf para pembaca..bagi saya Bukit Daun menorehkan kisah yang dalam dalam perjalanan saya sebagai pecinta gunung dan alamnya.deskripsi diatas jauh dari yang anda bayangkan..
Di Bukit daun itulah perjalanan terlama dalam sejarah saya mendaki gunung untuk menuju satu lokasi..lama dikarenakan didalam perjalanan;

Pertama mencari warga setempat/kuncen yang bersedia mengantar tapi tidak segera dapat,kedua medan yang berat dan (sepertinya) tidak pernah dilalui manusia,ketiga sempat nyasar sebentar di awal perjalanan,keempat saya cidera di hari kedua dan ditambah lagi dalam perjalanan turun),kelima masa pemulihan saya di desa selama 2 hari termasuk ritual kuncennya..





Sedikit profile tentang Bukit Daun

Ketinggian: 2467 m dpl
Desa terdekat Bermani Ulu Raya.
Start pendakian Kebun teh bermani ulu +-600 m dpl
lama tempuh estimasi jika normal tanpa halangan 2 hari p-p.
versi Adrian 3 hari 3 malam..
Beberapa fakta lain:

-Walaupun dinamakan bukit,tapi ketinggian bukit daun melebihi 1000 m dpl.
-Masuk dalam kabupaten rejang lebong dengan ibukota Curup.
-Salah satu gunung tertinggi di propinsi Bengkulu
-Salah satu gunung di deretan pegunungan bukit barisan wilayah bengkulu.
-Di kaki bukit daun,terdapat obyek wisata alam yang menarik untuk dikunjungi,telaga tujuh warna dan telaga gadang.yang sayangnya potensi ini belum tergarap dengan baik.
-Di sebelah..kurang lebih..km terdapat Bukit Kaba,di sebelah...terdapat bukit hulumayus dan bukit gedang hululai...disebelah..terdapat Danau Tes yang konon Sumanto pernah berencana datang untuk menantang naga penunggu danau tes.hehe

Untuk menuju Bukit Daun..
pertama kita menuju ke propinsi Bengkulu dulu pastinya..
Dari ibukota bengkulu menuju curup kurang lebih 80 km,dari Curup kemudian menuju ke desa bermani ulu raya kurang lebih 20 km..
Selain dari bengkulu untuk menuju Curup bisa ditempuh dari Lubuk linggau,Sumsel kurang lebih 60 km kemudian menuju desa yang sama.
dari desa tersebut kita menuju kebun teh terdekat.dari kebun teh dimulailah pendakian yang menantang....

Catatan (selanjutnya akan saya lengkapi,sekembali ke tanah air dan saya buka diary)
Bukit DAun,gunung pertama yang dituju dalam ekspedisi sumatra 2007..
team: Adrian,Kang Topa,Hambali a.k.a Gembel.
dan tentu warga bermani ulu raya yang ikut mengantar kami:
-Kak Heri,Kak Samsul,Kak....,dan atas seijin Kak Ridwan selaku sesepuh bukit daun..

Hari pertama

- Dari Lubuk linggau menuju Curup, dari Curup mencari desa terdekat berdasarkan peta.yakni desa Bermani ulu raya.sampai didesa hari mulai gelap,terdengar adzan magrib dan saya memutuskan berhenti di musholla terdekat untuk sholat.usai sholat maghrib kami ngobrol dengan warga yang sedang berada di musholla,dari percakapan itulah kami jadi tahu kalo warga yang tinggal di bermani ulu raya kebanyakan adalah transmigran dari pulau jawa,dan berlangsunglah percakapan yang akrab..kemudian salah seorang sesepuh warga trans mengajak kami singgah dirumah beliau dan akhirnya kami menginap disana selama 3 hari..

Hari Kedua

-Pagi dah menyapa dan kita semua masih belum beranjak,wajar masih ingin menikmati segarnya udara pegunungan...
di hari kedua,tujuan pertama mencari guide atau penduduk yang biasa ke gunung kemudian silaturahmi ke pak kades untuk melapor diri..sampai malam tiba,kami belum menemukan orang yang biasa naik ke bukit daun.

Hari Ketiga

-Mulai ada titik cerah,akhirnya bertemu dengan kak Ridwan..beliau adalah orang asli rejang dan kuncen bukit daun. dari kak Ridwan ada beberapa orang yang bersedia mengantar. dan berangkatlah kita pada siang hari setelah pkl 13.00 siang..
start dari perkebunan teh diatas desa bermani ulu raya.start awal pendakian +- 700 m dpl. perjalanan awal lebih banyak menanjaknya daripada bonus track.dan jalur harus dibuka terlebih dahulu dengan parang,karena melewati belukar dan bekas perkebunan..betul2 banyak menguras tenaga di hari pertama ini. dan kami memutuskan ngecamp disekitar ketinggian +-1000 m dpl. vegetasi masih campuran antara bekas perkebunan-perdu menuju hutan gunung bagian bawah.

Hari keempat
Pagi jam 10.00 memulai lagi perjalanan setelah mengisi bensin perut,mie dan nasi...(-:
kemudian memasuki hutan pegunungan bagian bawah(Lower montane forest)setelah 2 jam jalan dengan ciri2 batang pohon sudah ada lapisan lumut dan kelembapan tinggi,beberapa anggrek mulai menampakan diri,tapi untuk Nepenthes tidak terlihat sama sekali pada ketinggian 1200 m dpl.di ketinggian ini kami sempat hilang orientasi menuju ke arah gunung kepala monyet tapi berkat kecermatan mr.gembel menlihat ulang gps dan insting kak heri akhirnya bisa teratasi..dan pada hari ini penambahan ketinggian tidak terlalu banyak dan kami ngecamp di ketinggian +-1400 m dpl.karena tanpa disadari hari sudah mulai gelap. dihari keempat ini kita mulai kehabisan air karena dirasa kesempatan untuk mendapatkan sumber air diperjalanan selanjutnya minim. maka malam itu juga kami mulai menderes rotan untuk dikumpulkan airnya dalam botol air mineral satu liter.
kemudian kami mulai membikin api unggun. untuk megusir nyamuk gunung yang ganas.

Hari keempat tengah malam
satu persatu mulai mengantuk,tinggal saya dan 2 orang masih terjaga..bukit daun sudah nampak karena langit malam yang cerah...entah karena saya berhalusinasi atau "efek gema"dari kampung di kaki gunung. pelan2 saya dengar suara gamelan dari arah bukit daun..awalnya pelan,lama kelama2an semakin jelas..
uniknya nada gamelan tidak seperti pada umumnya.ada nada tersendiri..sulit untuk dideskripsikan disini. dan semenjak saya dengar suara tersebut saya putuskan diam tidak berkomentar,pura2 tidak dengar sambil menikmati pemandangan di langit..
dan akhirnya saya pun diserang kantuk juga dan segera menempatkan diri di tenda,mencari posisi wuenak.
saya merasa tidur nyaman sekali..serasa tidur berjam2.dan kisah lain berlanjut..
ditengah tidur saya bermimpi bertemu gadis ehm cewek sexy dengan pakaian baju tradisional (seperti kemben)di suatu tempat seperti rumah tua. si cewek menarik2 tangan saya sembari menunjuk ke bukit daun dan tidak berkata sepatah pun dengan ekpresi beku..segera saya bangun dengan kaget..jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.

Hari ke lima

Pagi sekitar jam 6,Saya lihat kak Heri dan Samsul sudah mulai berkemas..mendadak kak Samsul mendekati saya dan bertanya "Saya lihat semalam ada cahaya masuk ditenda,saya yakin Adrian pasti bermimpi atau mungkin teman yang lain satu tenda juga bermimpi?.karena itu semacam pertanda,mimpi apa semalam?"
saya ceritakan mimpi saya dan kata Kak Samsul. "ya itu pertanda bagus,boleh melanjutkan perjalanan,klo mimpinya buruk hari ini juga kita harus turun"
hmmm..kadang ada misteri yang memang belum terjelaskan dalam perjalanan ini gumamku.dari gamelan dan cewek sexy..

Setelah semua rombongan berkemas dan perjalanan dilanjutkan kembali.
Medan semakin berat,karena jalur sepertinya tidak pernah dilewati manusia sebelumnya.kadang tiap jalan kami terpaksa berhenti kadang bergantian untuk membabat rotan/semak yang menghalangi jalan..dan untuk menyemangati, saya atau teman lain berteriak "Hajar JAY!!"

Kira2 perjalanan kaki 3 jam dari 'pos' sebelumnya, kak Heri menemukan sumber air yang terdapat di 'jurang' yg curam yg membelah jalur pendakian. dengan perasaan kemenangan kak Heri mulai turun mengambil air yg terdapat didasar jurang yg krg lebih 25 meter dalamnya.sumber aair tidak mengalir karena musim kemarau,namun beberapa jerigan dan botol aqua dapat terpenuhi akhirnya. dan bisa ditebak kualitas airnya yang keruh sehingga kami saring lagi pakai kain..
puas mengisi supply air,kami lanjut perjalanan, medan benar tidak ada bonus sama sekali..2 jam perjalanan berikutnya kaki saya yang kanan mendadak kram..dan saya terpelanting karena salah melangkah ketika sedang menahan sakit..jadilah perjalanan berikutnya menjadi lamban dan lamban..

Kemudian siang hari sekitar jam 2,altimeter menunjukkan ketinggian 1900 m dpl,yang artinya tinggal kurang lebih 500 meter lagi sampai dipuncak..
diluar dugaaan ketika saya sedang menahan sakit di kaki kanan dengan jalan tertatih2, saya melihat gerombolan rossete N.pectinata untuk pertama kalinya. ya! penampakan Nepenthes pertama kalinya di Bukit daun setelah menempuh perjalanan beberapa hari..!!

N.pectinata di bukit daun,bentuk kantung bawahnya bulat telur-gemuk,hampir menyerupai N.belii tapi dengan ukuran kantung lebih besar +-15 cm..
segera rasa sakit yg sudah menggelayut di kaki kanan sirna seketika(utk sementara hehe,this is just begining of another suffering)...
saya mencoba berinteraksi dengan segerombolan Nepenthes itu,saya seperti mendengarkan kisah jutaan tahun yang lalu tentang 'diaspora' jenis ini dari gunung lain yang menyebabkan mereka terdampar dan beradaptasi disini..
kemudian saya menyiapkan kamera,begitu juga dengan Gembel dengan kamera barunya pada waktu itu..memfoto dari berbagai sudut kemudian saya meminta pak Tofa untuk menyiapkan peralatan untuk mengkoleksi spesimen..sedangkan para penunjuk jalan,Kak Heri,Samsul memilih beristirahat sembari mencari jalur menuju puncak.

Beberapa bagian dari Nepenthes selanjutnya diambil untuk spesimen,yang selanjutnya di kirim Ke Herbarium Bogoriense dan ANDA..
selesai mengkoleksi spesimen,saya mulai mengamati sekeliling,mencatat tentang kondisi vegetasi dan melihat ke dahan2 pohon yang tinggi dengan harapan ada jenis lain selain N.pectinata disini..

Dari tempat saya berdiri keliatan dari pohon yg tinggi nampak beberapa individu N.spathulata menempel di dahan.
adalah tipikal N.spathulata dalam kaitan populasinya di pohon,lebih terlihat jarang dan terlihat sepert individual plant, tersebar, tidak seperti N.adrianii yang membentuk gerombolan tanaman,hampir mendominasi/memenuhi dahan pohon hingga penuh.

Dirasa tidak memungkinkan untuk mengambil specimen N.spathulata di pohon,saya melnjutkan perjalanan,dan selama perjalanan menuju puncak dikanan kiri terdapat 'lembaran' karpet N.pectinata.
Keberuntungan saya pada hari itu karena saya menemukan biji dari N.pectinata, merupakan kesempatan yang langka menjumpai biji atau bunga dari N.pectinata dialam karena N.pectinata lebih aktif memperbanyak diri secara vegetatif dibanding generatif. yang selanjutnya biji yang saya koleksi ini saya sebarkan ke anggota KTKI,untuk disemai..(sampe sekarang belum terdengar laporannya,bagaimana perkembangan bijinya..hehehe)
sumber :  Blogger Diantara Paku dan Resam